Beranda Gaya Hidup Waspada Ancaman Leptospirosis di Musim Hujan, Kenali Gejala dan Risiko Gagal Organ

Waspada Ancaman Leptospirosis di Musim Hujan, Kenali Gejala dan Risiko Gagal Organ

1185
Ilustrasi tikus dalam aliran air sebagai sumber penyakit liptospirosis (sumber:chatgpt)
KEDIRI, KUBUS.ID – Memasuki musim penghujan, masyarakat diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman penyakit Leptospirosis. Penyakit yang dipicu oleh bakteri Leptospira ini kerap mengintai warga yang beraktivitas di area genangan air atau bekas banjir yang terkontaminasi urin tikus.

Praktisi medis, dr. Hendra Wijaya, menjelaskan bahwa bakteri ini memiliki daya tahan yang cukup kuat di lingkungan yang lembap dan kotor. Penularan ke manusia biasanya terjadi melalui kontak langsung, terutama jika seseorang memiliki luka terbuka pada kulit.

“Bakteri Leptospira ini berasal dari urin tikus. Ia mampu bertahan hidup cukup lama dalam kondisi air kotor, terutama di genangan sisa banjir. Jika air tersebut mengenai kulit yang terluka, bakteri akan dengan mudah masuk ke dalam tubuh,” ujar dr. Hendra.

Gejala awal Leptospirosis seringkali menyerupai flu biasa, namun dr. Hendra menekankan beberapa ciri spesifik yang harus diwaspadai agar tidak terlambat ditangani. Gejala tersebut meliputi demam tinggi, mual, serta nyeri hebat di bagian kaki (betis).

“Paling mudah dikenali adalah demam tinggi yang disertai nyeri hebat pada otot kaki. Selain itu, salah satu ciri khas lainnya adalah mata yang tampak memerah. Jika merasakan gejala ini, segera lakukan pemeriksaan medis untuk memastikan diagnosanya,” tambahnya.

Ketepatan waktu dalam pengobatan menjadi kunci keselamatan pasien. dr. Hendra memperingatkan bahwa keterlambatan penanganan medis dapat berakibat fatal. Jika dalam waktu 10 hari penderita tidak mendapatkan pengobatan yang tepat, bakteri ini dapat menyerang organ-organ vital.

“Penanganan yang lambat bisa menyebabkan kematian. Jika lewat dari sepuluh hari tanpa pengobatan, infeksi ini bisa memicu kegagalan fungsi organ sensitif, seperti gagal ginjal hingga gangguan pada otak,” tegas dr. Hendra.

Sebagai langkah pencegahan, masyarakat diminta untuk menerapkan pola hidup bersih dan sehat (PHBS). Menjaga kebersihan lingkungan rumah serta kandang ternak menjadi hal yang krusial untuk memutus rantai habitat tikus.

Masyarakat juga disarankan untuk selalu menggunakan alat pelindung diri saat beraktivitas di area yang berisiko.

“Biasakan menggunakan sepatu boot saat harus membersihkan genangan air atau bekerja di tempat yang kotor. Ini adalah proteksi paling sederhana namun sangat efektif untuk mencegah kontak langsung dengan bakteri,” pungkasnya.(eko)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini