
KEDIRI, (KUBUS.ID) – Hujan gol mewarnai laga lanjutan Super League 2025/2026 di Stadion Brawijaya, Kediri. Persik Kediri harus mengakui keunggulan Bhayangkara FC dengan skor tipis 3-4 dalam pertandingan yang berlangsung sengit sejak menit awal.
Pertandingan yang diawali hujan deras itu langsung menyajikan tekanan dari tim tamu. Bhayangkara FC membuka keunggulan cepat pada menit ke-6 melalui Slavko Damjanovic yang memanfaatkan kemelut di depan gawang usai situasi tendangan bebas Moussa Sidibe.
Persik merespons pada menit ke-33. Tendangan keras Francisco Kiko Carneiro dari luar kotak penalti tak mampu dibendung kiper Bhayangkara, mengubah skor menjadi 1-1. Empat menit berselang, publik tuan rumah terhenyak setelah sepak pojok Ryo Matsumura disambut tandukan Nehar Sadiki yang membawa Bhayangkara kembali unggul 1-2.
Memasuki babak kedua, intensitas serangan meningkat. Macan putih kembali menyamakan kedudukan lewat gol Jose Enrique pada menit ke-51. Persik yang terlalu asyik menyerang justru lengah di lini belakang. Pada menit ke-59, Privat Mbarga menuntaskan umpan cut back Moussa Sidibe untuk membawa tim tamu kembali memimpin 2-3.
Laga berjalan terbuka. Ernesto Gomez mencetak gol penyeimbang bagi Persik pada menit ke-64, membuat skor kembali imbang 3-3. Namun, menjelang akhir pertandingan, Bhayangkara memastikan kemenangan. Pada menit ke-87, striker Bernard Henri Doumbia menuntaskan assist Privat Mbarga dan mencetak gol penutup yang memastikan kemenangan 3-4 bagi tim tamu.
Patih Persik Kediri Marcos Reina menyoroti sektor pertahanan timnya yang masih perlu dievaluasi. Ia merasa beberapa gol tim tamu terlihat sangat mudah sementara timnya sulit mencetak gol.
“Secara umum saya senang dengan daya juang pemain saya, ada kejar-kejaran gol, namun lagi-lagi sisi pertahanan kami yang perlu berkembang lagi,” ujar Pelatih berkebangsaan Spanyol kepada Jurnalis Radio ANDIKA Nahdi Mujahidin usai laga.
Marcos Reina juga menyoroti kepemimpinan wasit Yudi Nurcahya yang dinilai ada beberapa keputusan yang kurang cermat.
“Wasit tidak memberi kartu kuning kedua pada Subo (Seto), lalu ada potential red card yang tidak digubris,” tambahnya.
Ia berujar jika tidak ada perubahan dari sisi wasit, sepak bola Indonesia tidak akan berkembang lebih jauh. (nhd)
































