Jakarta (KUBUS.ID) – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang kian masif dinilai menjadi tantangan serius bagi dunia media. Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) meresponsnya dengan menggelar Ngaji Jurnalistik bertema “Menjaga Etika, Kebenaran dan Nurani di Era AI” di Hall Dewan Pers, Jakarta.
Kegiatan rutin Ramadan itu menjadi ruang refleksi bagi jurnalis televisi untuk meneguhkan prinsip jurnalisme manusia di tengah disrupsi teknologi.
Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, menegaskan adaptasi merupakan keniscayaan, namun etika tidak boleh ditawar. “Di tengah disrupsi, pers harus survive. Namun yang harus tetap dijaga adalah etika,” ujarnya.
Diskusi panel menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain Dahlan Dahi, Yunes Herawati, Heru Tjatur, serta Sekjen IJTI Usmar Almarwan. Forum membedah relasi antara kemajuan teknologi dan tanggung jawab moral jurnalisme.
Usmar menilai AI unggul dalam kecepatan, tetapi tidak memiliki dimensi nurani. “Teknologi hanyalah alat. Ia bisa mempercepat kerja, tetapi tidak memiliki nurani,” katanya.
Diskusi merumuskan tiga poin krusial: empati, keberpihakan pada kelompok rentan, dan integritas sebagai penjaga moral pemberitaan. Aspek tersebut dinilai tidak dapat digantikan sepenuhnya oleh algoritma.
Selain diskusi, IJTI juga menyalurkan santunan kepada 20 anak yatim dari Yayasan As Suhaimiyah, Kebon Sirih, Jakarta. Ketua Umum IJTI, Herik Kurniawan, menyebut kegiatan itu sebagai upaya menyeimbangkan profesionalisme dan kepedulian sosial di bulan Ramadan. (atc/nhd)

































