
MOJOKERTO, (KUBUS.ID) – Jumlah korban terdampak dugaan keracunan Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Mojokerto terus bertambah. Total korban yang menjalani perawatan di puskesmas maupun rumah sakit kembali mengalami peningkatan.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Mojokerto, Dyan Anggrahini Sulistyowati, mengatakan jumlah korban keracunan massal MBG yang berasal dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Yayasan Bina Bangsa Semarang 03, Desa Wonodadi, Kecamatan Kutorejo, bersifat dinamis.
“Pasti ada perubahan, baik turun maupun naik, karena setiap pasien juga ada yang kondisinya membaik dan diperbolehkan pulang,” kata Dyan saat dikonfirmasi Radio ANDIKA pada Selasa (12/1).
Berdasarkan data terbaru, total korban terdampak mencapai 349 orang. Dari jumlah tersebut, sebanyak 158 orang masih menjalani rawat inap atau perawatan intensif. Dyan menambahkan, seluruh fasilitas kesehatan yang menangani korban terus melaporkan perkembangan kondisi pasien secara berkala setiap jam.
Penanganan medis terhadap korban dilakukan di 16 fasilitas pelayanan kesehatan, di antaranya RS Dharma Husada Ngoro, RSUD Prof. dr. Soekandar, RSUD Sumberglagah, RS Mawaddah Medika, RSI Arofah, RS Kartini, RS Sidowaras, RSUD dr. Wahidin Sudiro Husodo, RS Dian Husada, RSI Sakinah, serta Puskesmas Pacet, Gondang, Kutorejo, Bangsal, dan Dlanggu.
Terkait hasil uji laboratorium yang dijadwalkan keluar pada Senin (12/1), Dyan mengungkapkan bahwa sebagian sampel memang telah selesai diuji. Namun, pihaknya belum dapat menyampaikan hasil pemeriksaan secara menyeluruh.
“Memang sudah ada beberapa sampel yang selesai diuji, tetapi belum bisa kami sampaikan karena masih ada pengujian lanjutan dengan item yang berbeda,” jelasnya.
Dinkes Kabupaten Mojokerto memastikan hasil uji laboratorium akan diumumkan setelah seluruh proses pemeriksaan rampung, guna memastikan penyebab pasti keracunan yang menimpa siswa, guru, hingga wali murid.
Sebelumnya, dugaan keracunan massal ini terjadi setelah para korban mengonsumsi menu MBG pada Jumat (9/1). Para korban mengeluhkan gejala mual, muntah, pusing, lemas, hingga diare usai menyantap soto ayam yang disediakan SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03.
Ratusan korban tersebut berasal dari tujuh lembaga pendidikan tingkat SMP/MTs dan SMA/MA, di antaranya Pondok Pesantren Teknologi Informasi Al Hidayah Desa Wonodadi, Ponpes Mahad An Nur Desa Singowangi, serta SMP Negeri 2 Kutorejo.
Sementara itu, Kepala SPPG Yayasan Bina Bangsa Semarang 03 Desa Wonodadi, Afni, menduga keracunan massal tersebut berpotensi berasal dari bahan makanan, khususnya ayam atau telur yang diolah.
“Bisa jadi dari bakterinya, kalau tidak di ayamnya ya di telurnya,” ujarnya. (far)































