Beranda Religi Niat Puasa Ramadhan: Sekali untuk Sebulan atau Setiap Malam? Ini Penjelasannya

Niat Puasa Ramadhan: Sekali untuk Sebulan atau Setiap Malam? Ini Penjelasannya

259
Ilustrasi shalat berjamaah (Foto: Pexels/Raihan Ali)

KUBUS.ID – Niat bukan sekadar formalitas. Dalam ibadah puasa, niat adalah rukun penentu sah atau tidaknya ibadah seseorang. Tanpa niat, puasa tak bernilai.

Namun, tahukah Anda? Tata cara niat puasa ternyata tidak sepenuhnya sama antara puasa wajib dan puasa sunnah.

Melansir MUI Digital, untuk puasa wajib seperti Ramadhan, qada, maupun nazar, niat harus dilakukan pada malam hari sebelum terbit fajar. Artinya, niat tidak boleh “menyusul” setelah Subuh tiba.

Berbeda dengan puasa sunnah. Di sini syariat memberi kelonggaran. Seseorang masih boleh berniat pada siang hari, selama belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak fajar.

Lalu bagaimana praktik niat puasa Ramadhan?

Dalam Mazhab Syafi’i, yang dianut mayoritas Muslim Indonesia, niat puasa Ramadhan wajib dilakukan setiap malam. Jadi, niat tidak cukup sekali untuk sebulan. Setiap hari harus diperbarui. Pandangan ini ditegaskan oleh Syekh Sulaiman Al-Bujairimi dalam Hasyiyatul Iqna’.


ويشترط لفرض الصوم من رمضان أو غيره كقضاء أو نذر التبييت وهو إيقاع النية ليلا لقوله صلى الله عليه وسلم: من لم يبيت النية قبل الفجر فلا صيام له. ولا بد من التبييت لكل يوم لظاهر الخبر

“Disyaratkan berniat di malam hari bagi puasa wajib seperti puasa Ramadhan, puasa qadha, atau puasa nadzar. Ini berdasarkan hadis Rasulullah SAW, ‘Siapa yang tidak berniat di malam hari sebelum fajar, maka tiada puasa baginya.’ Karenanya, harus niat puasa di setiap hari (bulan Ramadan) jika melihat redaksi zahir hadits.” (Sulaiman Al-Bujairimi, Hasyiyatul Iqna’, juz 2)

Namun, Mazhab Maliki punya pandangan berbeda. Menurut mazhab ini, niat puasa Ramadhan cukup dilakukan sekali saja pada malam pertama untuk satu bulan penuh. Alasannya, puasa Ramadhan dipandang sebagai satu kesatuan ibadah yang utuh. Pendapat ini juga dikutip oleh Yusuf Al-Qaradlawi dalam Fiqh al-Shiyam.

Adapun bacaan niat puasa Ramadhan, sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma ghadin ‘an ada’i fardhi syahri Ramadhana hadzihis sanati lillahi ta’ala.

Artinya: “Aku niat berpuasa esok hari untuk menunaikan kewajiban puasa bulan Ramadhan tahun ini, karena Allah Ta’ala”

Sementara niat puasa untuk satu bulan penuh, sebagai berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ جَمِيْعِ شَهْرِ رَمَضَانِ هٰذِهِ السَّنَةِ فَرْضًا لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma jami’i syahri ramadhani hadzihis sanati fardhan lillahi ta’ala.

Artinya: “Aku niat berpuasa di sepanjang bulan Ramadhan tahun ini dengan mengikuti pendapat Imam Malik, wajib karena Allah Ta’ala.” (Shafira Amalia, ed: Nashih)

Lantas, mana yang sebaiknya diikuti?

Sebagai bentuk kehati-hatian, banyak ulama menganjurkan menggabungkan keduanya. Pada malam pertama Ramadhan, kita bisa berniat untuk satu bulan penuh mengikuti pendapat Imam Malik. Setelah itu, tetap membiasakan berniat setiap malam sebagaimana tuntunan Mazhab Syafi’i.

Praktiknya sederhana. Niat bisa dilafalkan seusai shalat Tarawih atau saat makan sahur. Tidak harus panjang dan bertele-tele. Yang terpenting adalah kesadaran dalam hati untuk menjalankan puasa esok hari.

Sebab pada akhirnya, puasa bukan hanya soal menahan lapar dan dahaga. Ia dimulai dari niat, dari kesungguhan hati untuk taat.(adr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini