KUBUS.ID – Ramadan sering kali menghadirkan semangat baru dalam beribadah. Target khatam Al-Qur’an, salat tarawih penuh sebulan, sedekah rutin, hingga bangun sahur tanpa terlewat. Semua terasa indah dan ideal di awal bulan. Namun di balik semangat itu, diam-diam ada jebakan perfeksionisme ibadah.
Perfeksionisme membuat ibadah berubah menjadi daftar target yang harus dicapai, bukan lagi ruang kedekatan dengan Tuhan. Ketika satu malam terlewat tarawih, hati terasa sangat bersalah. Ketika tidak jadi khatam sesuai jadwal, muncul perasaan gagal. Padahal, Ramadan bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang menjadi lebih sadar.
Perfeksionisme ibadah sering kali ditandai dengan:
- Merasa gagal total hanya karena melewatkan satu amalan.
- Membandingkan capaian ibadah dengan orang lain.
- Merasa cemas jika target pribadi tidak tercapai.
- Mengukur nilai diri dari seberapa banyak ibadah dilakukan.
Padahal, kualitas hubungan spiritual tidak selalu bisa diukur secara kuantitatif. Ada orang yang membaca satu halaman Al-Qur’an dengan penuh penghayatan, dan itu mengubah hidupnya. Ada yang berdoa singkat namun sungguh-sungguh, dan hatinya terasa lapang.
Ramadan sejatinya adalah perjalanan, bukan kompetisi. Ibadah yang dilakukan dengan tenang dan konsisten lebih bermakna dibanding ibadah yang dipaksakan hingga menguras energi emosional. Ketika tubuh lelah, ketika pikiran penuh, memberi ruang istirahat bukan berarti menyerah, melainkan bentuk kebijaksanaan.
Beberapa cara menghindari perfeksionisme ibadah:
- Tetapkan target realistis sesuai kapasitas pribadi.
- Fokus pada makna, bukan angka.
- Beri ruang untuk hari yang “tidak ideal”.
- Rayakan progres kecil, bukan hanya hasil besar.
Ramadan bukan panggung untuk membuktikan kesempurnaan diri, tetapi ruang untuk belajar menerima ketidaksempurnaan dengan penuh kesadaran.
































