KEDIRI, (KUBUS.ID) – Para petani cabai kini harus menghadapi tantangan berat akibat lonjakan harga sarana produksi pertanian. Kenaikan harga plastik Mulsa Hitam Perak (MPHP) yang cukup drastis menjadi beban tambahan di tengah upaya petani menjaga stabilitas modal. Kondisi ini menuntut para petani untuk lebih jeli dalam mengelola anggaran agar operasional lahan tidak terhenti di tengah jalan.
Berdasarkan wawancara jurnalis Andika dengan Suyono, petani cabai asal Ngletih, Pesantren, Kota Kediri, mengungkapkan bahwa kenaikan harga plastik mulsa saat ini mencapai angka yang luar biasa. Harga yang sebelumnya berada di kisaran Rp32.000 kini melambung hingga Rp39.000 per kilogram. Lonjakan ini berdampak langsung pada biaya investasi awal, terutama bagi mereka yang mengelola lahan dalam skala besar dan sangat bergantung pada penggunaan mulsa untuk menjaga kualitas tanah.
“Harga plastik MPHP naik luar biasa dari Rp32.000 menjadi Rp39.000 per kilogram. Untuk lahan 250 ru, biaya modalnya naik sampai 40 persen, jadi kami harus pintar-pintar memutar otak. Saya pakai cara sambung tanam; sebelum masa panen habis, sudah ditanami bibit baru supaya plastik lebih awet dan bisa dipakai berkali-kali. Harapan saya, semoga kenaikan harga plastik ini nantinya sebanding dengan harga jual tanaman kami.”
Untuk lahan seluas 250 ru, petani biasanya memerlukan sekitar satu setengah kuintal plastik mulsa. Dengan harga baru, total biaya yang harus dikeluarkan membengkak antara Rp2 juta hingga Rp3 juta, atau mengalami kenaikan sekitar 40 persen dari periode sebelumnya. Kenaikan yang signifikan ini secara otomatis menambah biaya produksi secara keseluruhan, sehingga margin keuntungan petani berpotensi tergerus jika tidak segera diantisipasi.
Guna menyiasati keadaan tersebut, Suyono menerapkan strategi sambung tanam agar plastik mulsa tidak cepat rusak dan dapat digunakan berkali-kali. Metode ini dilakukan dengan menanam bibit baru di sela-sela tanaman lama sebelum masa panen berakhir. Dengan cara ini, plastik tetap terjaga posisinya dan bisa dimanfaatkan untuk beberapa siklus tanam tanpa harus membeli mulsa baru yang harganya sedang melambung tinggi.
Kreativitas dalam menekan biaya produksi menjadi kunci utama bagi petani di Ngletih agar tetap bisa bertahan dan meraih hasil maksimal. Harapan besar kini digantungkan pada harga jual panen mendatang. Petani berharap agar tingginya modal produksi kali ini dapat dibarengi dengan harga cabai yang kompetitif di pasar, sehingga jerih payah dalam menyiasati mahalnya saprodi dapat terbayar dengan keuntungan yang sepadan.
“Harapan kami sederhana, semoga kenaikan harga plastik yang luar biasa ini nantinya sebanding dengan harga jual hasil panen. Kami sudah berusaha menekan biaya produksi agar tetap stabil, kini tinggal menunggu kebijakan harga di pasar agar berpihak pada petani,” pungkas Suyono. (sof)
































