BALI, (KUBUS.ID) – Andika Media mengikuti paparan dari Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali terkait Pemerintah Provinsi Bali terus melakukan transformasi ekonomi sebagai langkah strategis mengurangi ketergantungan yang terlalu besar terhadap sektor pariwisata. Kebijakan tersebut lahir dari pengalaman saat pandemi Covid-19 yang menyebabkan perekonomian Pulau Dewata mengalami kontraksi hingga sekitar 9 persen.
Jurnalis Andika Media Anto Christian dalam acara gathering bersama OJK Kediri, wawancara langsung dengan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Bali I Wayan Sumarajaya menjelaskan bahwa pariwisata memiliki peran yang sangat dominan dalam menopang perekonomian daerah. Tingginya ketergantungan tersebut membuat Bali sangat rentan terhadap berbagai isu global maupun bencana yang berdampak pada kunjungan wisatawan.
“Ketika Covid-19 melanda, ekonomi Bali langsung terpuruk. Ini menjadi pelajaran penting bahwa pariwisata tidak bisa menjadi satu-satunya penopang ekonomi daerah,” jelasnya.
Meski demikian, sektor pariwisata masih menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi Bali. Kunjungan wisatawan mancanegara terus mengalami peningkatan, sementara jumlah wisatawan domestik tercatat sedikit menurun menjadi sekitar 9,3 juta kunjungan dibanding tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 10 juta kunjungan.
Di sisi lain, Bali juga mencatat sejumlah capaian positif. Provinsi Bali berhasil meraih berbagai penghargaan terkait pengentasan kemiskinan dan pembangunan daerah. Bahkan, tiga kabupaten yakni Badung, Gianyar, dan Tabanan turut memborong penghargaan dalam kategori pembangunan daerah.
Namun, pesatnya perkembangan pariwisata juga memunculkan berbagai tantangan. Mulai dari alih fungsi lahan, persoalan sampah, kemacetan lalu lintas, hingga masih ditemukannya usaha pariwisata yang belum memenuhi ketentuan perizinan. Selain itu, perilaku sebagian wisatawan asing yang melanggar aturan maupun norma budaya lokal juga menjadi perhatian pemerintah daerah.
“Pariwisata memberikan manfaat besar bagi masyarakat Bali, tetapi dampak dan masalah yang ditimbulkan juga besar sehingga harus dikelola dengan baik,” ujarnya.
Sebagai respons terhadap kondisi tersebut, Pemerintah Provinsi Bali melakukan rebranding sektor pariwisata dengan mengusung konsep pariwisata budaya yang berkualitas dan bermartabat. Konsep ini menjadi arah pembangunan Bali dalam lima tahun ke depan pascapandemi.
Untuk mendukung visi tersebut, Pemprov Bali menetapkan enam prioritas pembangunan daerah. Prioritas pertama menitikberatkan pada penguatan agama, tradisi, seni, budaya, dan pelestarian alam sebagai fondasi pembangunan. Selanjutnya diikuti sektor kesehatan, pendidikan, olahraga, serta pengembangan Ekonomi Kerthi Bali yang di dalamnya mencakup sektor pariwisata.
Transformasi Ekonomi Kerthi Bali menjadi strategi utama dalam membangun struktur ekonomi yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Pemerintah berharap pengalaman selama pandemi dapat menjadi pelajaran penting agar Bali tidak lagi terlalu bergantung pada satu sektor ekonomi, sehingga mampu menghadapi berbagai tantangan global di masa mendatang.(atc/ayu)































