Beranda Kediri Raya Harga Kedelai Melambung Tinggi : Pengrajin Tahu Kediri Keluhkan Mahalnya Biaya Produksi...

Harga Kedelai Melambung Tinggi : Pengrajin Tahu Kediri Keluhkan Mahalnya Biaya Produksi Hingga Penurunan Omzet

3

KEDIRI, (KUBUS.ID) – Sektor industri tahu rumahan di Kelurahan Tinalan, Kota Kediri, kini tengah menghadapi ujian berat menyusul tren kenaikan harga kedelai yang tak kunjung melandai. Marjuni, salah satu pengusaha tahu setempat, mengungkapkan bahwa gejolak harga ini sebenarnya sudah mulai dirasakan sejak momentum sebelum Lebaran lalu.

Dari harga normal yang berada di kisaran Rp9.000 per kilogram, kini harga bahan baku utama tersebut telah menembus angka Rp12.000 per kilogram, sebuah kenaikan signifikan yang memangkas margin keuntungan para perajin secara drastis.

Kondisi ini memaksa Marjuni untuk melakukan penyesuaian harga jual pada produk unggulannya, terutama tahu kuning yang sering menjadi buruan wisatawan sebagai oleh-oleh.

“Harga kedelai itu merangkak naik sejak sebelum Lebaran. Mulai dari Rp9.000 sampai sekarang tembus Rp12.000 per kilogramnya. Imbasnya, harga tahu kuning terpaksa saya naikkan jadi Rp30.000 per sepuluh biji dari harga awal Rp28.000 menjadi Rp30.000. Sementara untuk tahu putih harganya tetap, namun itu pun sangat bergantung pada permintaan pelanggan setia,” terang Marjuni.

Berdasarkan pantauan jurnalis Andika, yang dihadapi Marjuni nyatanya tidak berhenti pada urusan kedelai semata. Ia harus menghadapi kenyataan pahit berupa kenaikan harga material pendukung seperti besek bambu dan kayu bakar untuk proses pengukusan.

Selain beban materi, kendala non-teknis seperti keterbatasan tenaga kerja yang memiliki keahlian khusus dalam pembuatan tahu juga menjadi tantangan besar. Menurutnya, tidak semua pekerja memiliki ketelatenan dan skill yang bagus untuk menghasilkan tahu dengan tekstur dan rasa yang konsisten, sehingga proses regenerasi pekerja menjadi terhambat.

Meski dihimpit berbagai beban biaya, Marjuni tetap berkomitmen untuk mempertahankan volume produksinya demi menjaga ketersediaan stok bagi pelanggan setianya. Dalam sehari, ia mampu memproduksi sekitar 500 biji tahu putih dan 150 hingga 200 biji tahu kuning.

Namun, konsistensi produksi ini tidak berbanding lurus dengan pendapatan yang masuk. Marjuni mengaku harus menelan pil pahit dengan penurunan omzet yang mencapai 20 persen akibat daya beli masyarakat yang ikut terdampak perubahan harga tersebut.

Kini, harapan besar disandarkan kepada pemerintah agar mampu menstabilkan harga komoditas di pasar. Marjuni menegaskan bahwa keberlangsungan usahanya sangat bergantung pada fluktuasi harga bahan baku.

“Kendala kami bukan cuma kedelai, tapi juga naiknya harga besek bambu dan kayu bakar. Belum lagi urusan tenaga kerja, karena tidak semua orang punya skill yang bagus. Harapan saya sederhana, semoga harga bahan baku bisa turun kembali. Kalau biaya produksi rendah, keuntungan bisa lebih banyak dan bisa kami gunakan untuk meng-cover kebutuhan operasional lainnya,” pungkasnya.(sof)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini