Beranda Uncategorized Harga Plastik Meroket, Sekjen IKAPPI: Pedagang dan Emak-emak Sudah Teriak

Harga Plastik Meroket, Sekjen IKAPPI: Pedagang dan Emak-emak Sudah Teriak

34

Jakarta (KUBUS.ID) – Ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku industri kini berdampak langsung pada biaya hidup masyarakat. Harga berbagai jenis produk plastik di pasaran dilaporkan melonjak tajam menyusul terganggunya rantai pasok global akibat eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Kondisi ini kian pelik mengingat ketergantungan industri plastik nasional terhadap bahan baku impor masih sangat tinggi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), komoditas plastik dan barang dari plastik secara konsisten masuk dalam daftar sepuluh besar impor non-migas Indonesia. Ketergantungan pada bijih plastik (pellet) impor membuat harga domestik sangat rentan terhadap gejolak geopolitik dan fluktuasi nilai tukar rupiah.

Ketika ketegangan di Timur Tengah meningkat, biaya logistik dan harga bahan baku global otomatis terkerek naik, yang kemudian dibebankan kepada konsumen akhir di pasar-pasar tradisional.

Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (DPP IKAPPI), Reynaldi Sarijowan, mengungkapkan bahwa kenaikan harga ini telah terpantau sejak awal Ramadan. Namun, saat ini lonjakan tersebut telah mencapai titik puncaknya dengan besaran kenaikan yang sangat signifikan bagi para pedagang kecil.

“Kami pantau sudah cukup lama, pada saat memasuki bulan suci Ramadan harga plastik sudah mulai ada kenaikan. Puncaknya ini harganya yang kami sudah hitung kenaikannya mencapai 50%,” kata Reynaldi dilansir detikcom.

Lonjakan tersebut terlihat jelas pada harga plastik kresek yang semula dibanderol Rp 10.000, kini merangkak naik menjadi Rp 15.000 per pak. Selain itu, plastik klasifikasi lainnya juga mengalami kenaikan rata-rata sebesar Rp 5.000 dari harga normal Rp 20.000 menjadi Rp 25.000. Fenomena ini membuktikan betapa rapuhnya ketahanan industri hilir tanah air saat terjadi hambatan pada jalur impor.

“Memang ini risiko jika kita masih mengalami ketergantungan impor sehingga dampak dari perang yang ada di Timur Tengah ini implikasi secara serius ke dalam negeri sehingga kenaikannya akan terus terjadi. Kami pantau memang signifikan sekali harga plastik ini kenaikannya,” imbuh Reynaldi.

Situasi ini praktis membuat para pedagang pasar yang sehari-harinya bergantung pada kantong plastik untuk membungkus dagangan mulai merasa tercekik. Kekhawatiran terbesar saat ini adalah munculnya efek domino.

Naiknya biaya operasional akibat mahalnya harga pembungkus dikhawatirkan akan ikut menyeret naik harga berbagai komoditas pangan lainnya demi menutupi margin keuntungan yang tergerus.

“Emak-emak yang menggunakan plastik untuk dagangannya tentu sudah teriak-teriak, ini akan membuat harga di pasaran juga berpotensi mengalami kenaikan,” tutur Reynaldi. (nhd)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini