Beranda Religi Memaknai Isra Miraj, Menata Ulang Arah Kehidupan

Memaknai Isra Miraj, Menata Ulang Arah Kehidupan

2030
Ilustrasi Isra Miraj (Foto: freepik.com)

KEDIRI, (KUBUS.ID) – Peristiwa Isra Miraj bukan sekadar fragmen sejarah Islam yang diperingati saban tahun. Ia adalah perjalanan sunyi Nabi Muhammad SAW yang justru menyimpan pesan paling relevan bagi kehidupan modern yang kian bising oleh distraksi.

Isra Miraj dimaknai sebagai dua perjalanan Nabi Muhammad SAW dalam satu malam. Isra berarti perjalanan malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Sementara Mi’raj adalah kenaikan Nabi hingga Sidratul Muntaha. Peristiwa ini bersumber dari Al-Qur’an Surah Al-Isra ayat 1 serta hadis-hadis sahih. Ulama tafsir Prof. M. Quraish Shihab menjelaskan, Isra menekankan dimensi perjalanan, sedangkan Mi’raj menunjukkan proses “naik” menuju derajat spiritual tertinggi.

Catatan sejarah menyebut, Isra Miraj terjadi sekitar tahun 620–621 Masehi, bertepatan dengan tahun ke-10 kenabian. Masa itu dikenal sebagai Aamul Huzn atau tahun duka. Nabi Muhammad SAW kehilangan dua penopang utama dakwah: istri tercinta Khadijah dan pamannya Abu Thalib. Di tengah tekanan Quraisy dan kesedihan mendalam, Allah SWT menghadiahkan perjalanan spiritual sebagai penguat jiwa sang Rasul.

Tak mengherankan, kabar Isra Miraj sempat mengundang keraguan publik Makkah. Jarak Makkah–Palestina yang sekitar 1.500 kilometer dianggap mustahil ditempuh dalam semalam, apalagi dengan logika sains kala itu. Namun, di tengah hiruk-pikuk tudingan dan desas-desus, Abu Bakar memilih jalan tabayyun. Ia mengonfirmasi langsung kepada Nabi. Keyakinannya yang utuh membuatnya digelari Ash-Shiddiq atau orang yang membenarkan.

Di balik kisah luar biasa itu, tersimpan pelajaran mendasar. Pertama, pentingnya tabayyun di tengah banjir informasi. Kedua, Isra sebagai simbol singkatnya perjalanan hidup manusia. Waktu berlari cepat, usia menua tanpa permisi. Ketiga, Mi’raj mengajarkan bahwa hidup adalah proses naik kelas, dari fase terendah menuju kedewasaan spiritual.

Pelajaran lain tergambar dari kisah pilihan Nabi saat ditawari susu dan khamr. Nabi memilih susu. Hidup, pada akhirnya, adalah soal memilih. Setiap pilihan membawa konsekuensi. Isra Miraj mengajarkan ketegasan nilai dan tanggung jawab atas keputusan.

Puncak peristiwa ini adalah turunnya perintah shalat. Awalnya 50 waktu, diringankan menjadi lima waktu sehari. Shalat menjadi “mi’raj harian” umat Islam atau jalur langsung menguatkan iman di tengah tekanan hidup.

Tahun ini, Isra Miraj 1447 Hijriah jatuh pada Jumat, 16 Januari 2026, bertepatan dengan 27 Rajab. Di era digital yang serba cepat, peringatannya kerap terasa sekadar seremoni. Padahal, pesan utamanya sangat aktual: menjaga hubungan dengan Allah di tengah distraksi, menguatkan spiritualitas tanpa meninggalkan tanggung jawab sosial.

Isra Miraj mengajarkan satu hal penting: setinggi apa pun capaian spiritual, kaki tetap harus berpijak di bumi. Nabi Muhammad SAW kembali dari Sidratul Muntaha bukan untuk menikmati keheningan langit, melainkan melanjutkan perjuangan membangun peradaban dan membimbing umat. Pesan itulah yang layak direnungkan ulang bahwa iman yang naik harus berbuah manfaat nyata bagi sesama.(adr)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini