KUBUS.ID – Selamat datang di minggu kedua Ramadan 1447 H. Jika minggu pertama adalah tentang adaptasi perut, maka minggu kedua adalah tentang adaptasi ego. Notifikasi grup WhatsApp Anda pasti sudah mulai penuh dengan poling lokasi Buka Bersama (Bukber). Dari teman TK yang sudah tidak ingat nama kita, hingga mantan rekan kerja yang dulu saling sikut.
Namun, mari kita jujur: Berapa banyak dari undangan Bukber itu yang benar-benar murni ingin menyambung silaturahmi, dan berapa banyak yang sebenarnya hanyalah panggung validasi sosial?
Audit Kesejahteraan di Balik Meja Makan
Bukber telah bermutasi menjadi ajang “pameran pencapaian” tahunan. Kita datang dengan pakaian terbaik, gawai terbaru, dan kendaraan yang baru dicuci bersih. Begitu duduk melingkar, pertanyaan yang muncul jarang sekali bersifat spiritual.
“Kerja di mana sekarang?”, “Anak sudah berapa?”, atau “Wah, jam tangannya ganti ya?” adalah pertanyaan standar yang sebenarnya berfungsi sebagai radar untuk mengukur siapa yang paling sukses di antara lingkaran pertemanan tersebut. Bagi mereka yang merasa nasibnya sedang di bawah, Bukber bukan lagi momen kegembiraan, melainkan teror mental. Banyak orang memilih menghilang dari grup bukan karena sombong, tapi karena tidak sanggup menghadapi “sidang” adu nasib di meja makan.
“Pesta” yang Menggusur Kewajiban
Ironi terbesar dari Bukber masa kini adalah saat kita berkumpul demi “ibadah” (berbuka puasa), namun di saat yang sama kita menghancurkan inti dari ibadah itu sendiri.
Pernahkah Anda memperhatikan suasana di restoran atau cafe saat jam Bukber? Ketika azan Magrib berkumandang, semua orang sibuk dengan takjil, lalu lanjut dengan hidangan utama, dilanjutkan dengan sesi foto bareng (dengan puluhan kali retake demi angle sempurna), hingga akhirnya… salat Magrib terlewat begitu saja.
Musala restoran yang sempit, antrean wudhu yang panjang, dan obrolan yang terlalu seru menjadi alasan klasik. Kita rela membayar ratusan ribu untuk menu all-you-can-eat, tapi kita tidak rela meluangkan 5 menit untuk sujud kepada Sang Pemberi Rezeki. Kita sedang melakukan “transaksi” dengan perut, tapi bangkrut dalam urusan sujud.
Sedekah Gengsi vs Empati Hakiki
Biaya satu kali Bukber di hotel berbintang atau restoran hits sering kali setara dengan biaya makan satu keluarga kurang mampu selama seminggu. Kita tanpa ragu mengeluarkan uang demi gengsi di depan teman-teman, namun sering kali berpikir dua kali saat kotak amal lewat di depan mata.
Kita lebih takut dianggap “tidak asyik” atau “pelit” oleh teman kantor, daripada dianggap “tidak peduli” oleh lingkungan sekitar. Bukber telah menjadi instrumen kapitalisme yang membajak Ramadan. Kita merayakan kemenangan atas rasa lapar dengan cara berpesta pora di tengah banyaknya orang yang masih kesulitan mencari sesuap nasi.
Kritik Pedas: Jika Bukber-mu hanya menghasilkan tumpukan sampah makanan (food waste) dan foto Instagram yang dipaksakan, maka sebenarnya kamu tidak sedang berbuka puasa, kamu sedang merayakan kesombongan.
Akhir Kata: Kembali ke Esensi Pertemuan
Silaturahmi itu menghidupkan hati, bukan mematikan nurani dan menguras kantong secara sia-sia. Tidak ada salahnya dengan Bukber, selama tujuannya adalah benar-benar ingin mendengar kabar, merajut kembali tali yang putus, dan berbagi kebahagiaan—bukan berbagi pameran.
Ramadan 1447 H ini, cobalah untuk lebih selektif. Jangan hadiri pertemuan yang hanya membuatmu merasa kecil atau justru membuatmu merasa paling hebat. Jika Bukber-mu memaksa kamu meninggalkan salat Magrib, maka Bukber itu lebih haram bagi ruhanimu daripada makan babi bagi jasmanimu.
Berbukalah dengan kesederhanaan, karena yang dilihat Tuhan adalah siapa yang duduk di hatimu, bukan siapa yang duduk di meja makan bersamamu.






























