
KEDIRI, (KUBUS.ID) – Pemerintah Kota Kediri menunjukkan respons cepat dan terkoordinasi dalam menangani insiden dugaan keracunan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang terjadi pada Rabu (22/4). Kejadian tersebut melibatkan sejumlah siswa dari SD Ketami 1, SD Ketami 2, dan SD Tempurejo 1 yang mengalami gejala mual, muntah, pusing, hingga demam ringan.
Menindaklanjuti laporan resmi dari Kepala Sekolah SD Ketami 2, Dinas Kesehatan Kota Kediri segera bergerak melakukan investigasi dengan mengambil sampel makanan yang dikonsumsi para siswa. Hasil uji laboratorium menunjukkan adanya kandungan bakteri Escherichia coli (E. coli) pada makanan yang diduga menjadi penyebab utama gangguan kesehatan tersebut.
Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati menegaskan bahwa pihaknya langsung mengambil langkah cepat begitu menerima laporan. Koordinasi lintas sektor pun segera dilakukan, termasuk menggelar rapat bersama Wali Kota Kediri, Vinanda Prameswati, guna menentukan langkah penanganan dan pencegahan lanjutan.
“Berdasarkan hasil pengecekan, makanan yang dikonsumsi siswa terindikasi sudah tidak layak, bahkan ditemukan bakteri E. Coli. Kami langsung melakukan observasi ke SPPG Tempurrejo sebagai pihak penyedia makanan,” jelas Vinanda.
Adapun menu MBG pada saat kejadian meliputi ayam saus tiram, bakery bagel, tahu orak-arik, sup kacang merah, kentang, dan buah kelengkeng. Meski sejumlah siswa mengalami gejala keracunan, Pemerintah Kota Kediri memastikan tidak ada korban yang harus menjalani perawatan inap. Seluruh siswa yang terdampak mendapatkan penanganan medis langsung di lokasi oleh tim dokter dari Dinas Kesehatan yang diterjunkan ke sekolah-sekolah.
Sebagai bentuk tanggung jawab dan keseriusan penanganan, Wali Kota Kediri juga langsung berkoordinasi dengan Badan Gizi Nasional (BGN) untuk memastikan langkah evaluasi dan pembenahan program MBG ke depan berjalan optimal.
Sementara itu, Koordinator Wilayah SPPG Kota Kediri, Armetyansyah, menyampaikan bahwa pihaknya tengah melakukan kajian terkait kelanjutan operasional SPPG Tempurrejo. Ia menekankan pentingnya pengetatan standar operasional prosedur (SOP) dalam proses pengolahan dan distribusi makanan. Pihaknya juga akan menghentikan sementara SPPG Tempurrejo.
“Kami menemukan adanya indikasi bahwa SOP tidak dijalankan secara maksimal. Ke depan, monitoring dan evaluasi akan kami perketat agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.
Data sementara mencatat, jumlah siswa terdampak terdiri dari 53 siswa SD Ketami 2, 11 siswa SD Ketami 1, dan 5 siswa SD Tempurejo 1. Pemerintah Kota Kediri memastikan seluruh siswa telah mendapatkan penanganan yang memadai dan terus dipantau kondisi kesehatannya.
Melalui langkah cepat, sinergi lintas instansi, serta komitmen untuk melakukan evaluasi menyeluruh, Pemerintah Kota Kediri menegaskan keseriusannya dalam menjaga kualitas program MBG sekaligus melindungi kesehatan para siswa sebagai prioritas utama. (atc)































