Psikolog Kediri, Vivi Rosdiana, S.Psi., menjelaskan bahwa tindakan mengakhiri hidup sering kali berakar dari distorsi pemikiran, yakni kondisi ketika seseorang tidak lagi mampu melihat situasi secara rasional. Menurutnya, tindakan tersebut merupakan puncak dari konflik batin yang tidak terselesaikan. “Ini adalah bentuk keputusasaan mendalam. Ketika seseorang merasa buntu dan tidak mampu mengatasi masalah, pikiran menjadi sempit dan keputusan ekstrem bisa muncul,” ujarnya.
Ia menambahkan, dalam kondisi tersebut, individu cenderung dipenuhi pikiran negatif tentang diri sendiri. Perasaan gagal, tidak berguna, hingga merasa menjadi beban bagi orang lain memperkuat dorongan untuk mengakhiri hidup. “Mereka sering merasa tidak berarti dan tidak mampu memenuhi harapan orang lain, sehingga muncul penilaian negatif terhadap diri sendiri,” jelas Vivi.
Selain faktor kognitif, kurangnya kasih sayang dan kedekatan emosional juga menjadi pemicu penting. Menurut Vivi, individu yang merasa kesepian atau tidak memiliki tempat untuk berbagi cenderung lebih rentan. “Yang dirasakan bukan lagi rasa sakit fisik, tetapi kesepian dan luka emosional yang mendalam akibat pengalaman hidup,” katanya.
Sebagai langkah pencegahan, ia menekankan pentingnya komunikasi dan empati dari lingkungan sekitar. Perubahan perilaku sekecil apa pun seharusnya menjadi sinyal bagi keluarga maupun teman untuk lebih peka. “Empati dan komunikasi adalah kunci. Ketika seseorang merasa didengar dan dipahami, risiko tindakan ekstrem bisa ditekan,” pungkasnya.
Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa perhatian terhadap kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Dukungan sederhana dari orang terdekat dapat menjadi penopang bagi mereka yang sedang berada di titik terendah dalam hidup.(eko)
































