KUBUS.ID – Kita sering menganggap lapar sebagai sesuatu yang harus segera dihilangkan. Sedikit perut berbunyi, langsung mencari camilan. Sedikit haus, segera membuka botol minum. Namun Ramadan mengubah relasi kita dengan rasa lapar.
Lapar tidak lagi musuh. Ia menjadi guru.
Rasa lapar mengajarkan bahwa tubuh memiliki batas. Energi tidak tak terbatas. Fokus bisa menurun. Emosi bisa lebih sensitif. Dari sana kita belajar bahwa manusia bukan mesin.
Apa yang diajarkan lapar?
- Bahwa kita tidak selalu harus mengikuti keinginan.
- Bahwa menunda bukan berarti menderita.
- Bahwa banyak hal yang kita anggap “kebutuhan” ternyata hanya kebiasaan.
- Bahwa empati lahir dari pengalaman merasakan kekurangan.
Saat Magrib tiba, seteguk air terasa luar biasa. Kurma sederhana terasa sangat manis. Kita belajar bahwa kenikmatan sering kali datang setelah penantian.
Ramadan menempatkan kita di titik batas—batas fisik, batas emosi, batas ego. Dan justru di batas itulah kita mengenal diri sendiri lebih dalam.






























