KUBUS.ID – Bagi banyak orang, sahur identik dengan kebersamaan keluarga. Namun bagi anak kos dan para perantau, sahur sering menjadi momen yang sangat berbeda.
Tidak ada suara ibu yang membangunkan, tidak ada meja makan penuh hidangan, dan tidak ada percakapan santai sebelum azan subuh. Sahur sering dilakukan sendirian dengan makanan sederhana.
Realitas ini menjadi pengalaman yang cukup emosional bagi sebagian perantau, terutama pada tahun-tahun pertama jauh dari rumah.
Beberapa tantangan sahur bagi anak kos atau perantau antara lain:
- Bangun sendiri tanpa dibangunkan keluarga
- Menyiapkan makanan sahur sederhana
- Tidak ada suasana makan bersama
- Rasa rindu pada keluarga di rumah
Namun di balik kesederhanaan itu, ada pelajaran tentang kemandirian. Sahur sendirian sering menjadi pengalaman yang membentuk kedewasaan seseorang.
Banyak perantau mulai belajar mengatur waktu tidur, menyiapkan makanan sendiri, hingga menjaga kesehatan selama puasa tanpa bantuan keluarga.
Seiring waktu, sahur sendirian juga bisa menjadi momen refleksi yang tenang. Di keheningan pagi, seseorang bisa merenungkan perjalanan hidup dan tujuan yang sedang diperjuangkan.
Meskipun terasa sepi, pengalaman ini sering membuat momen pulang kampung di masa depan terasa jauh lebih berharga.




























