Kediri (KUBUS.ID) – Sekelompok warga yang menamakan diri Forum Tabayun melaksanakan Salat Idulfitri di Lapangan Futsal Sekartaji, Kota Kediri, Kamis (19/3) pagi. Kegiatan ini diikuti sekitar 200–300 orang dari berbagai elemen masyarakat.
Salat id tersebut digelar berdasarkan keyakinan jamaah atas penetapan 1 Syawal melalui rukyatul hilal global. Mereka mengacu pada laporan terlihatnya hilal di sejumlah negara pada dini hari.
Sekretaris Forum Tabayun Kota Kediri, Hadi Sasongko, mengatakan pihaknya berpegang pada hadis tentang penentuan awal bulan hijriah melalui rukyat. Ia menyebut batas wilayah negara tidak menjadi acuan dalam penetapan tersebut.
“Tidak mungkin 1 Syawal itu dua kali. Ketika hilal sudah terlihat, di mana pun, umat Islam wajib melaksanakan salat Id,” kata Hadi.
Menurut dia, informasi terlihatnya hilal pada pukul 03.00 WIB di Afghanistan, Mali, Nigeria, dan Maroko menjadi dasar pelaksanaan Salat Id hari ini. Selisih waktu antarnegera dinilai tidak melebihi 24 jam sehingga masih dalam satu siklus penanggalan yang sama.
Hadi menambahkan, perbedaan penentuan 1 Syawal bukan hal baru. Saat terjadi perbedaan, jamaah Forum Tabayun memilih menyesuaikan diri dengan masyarakat atau melaksanakan sendiri sesuai keyakinan.
Ia juga menyebut pihaknya sempat menunggu kepastian informasi hingga menjelang subuh. Jika tidak ada laporan rukyat global, mereka akan mengikuti penetapan 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada Jumat (20/3). Ketika disinggung soal perbedaan dengan umat islam yang lainnya, ia menganggap hal yang wajar karena perbedaan metode. (nhd)

































