Beranda Kediri Raya BGN Sebut Dapur MBG di Kampus Dinilai Representasi Program Berbasis Pengetahuan

BGN Sebut Dapur MBG di Kampus Dinilai Representasi Program Berbasis Pengetahuan

0
Mendiktisaintek Brian Yulianto bersama Kepala BGN meresmikan Dapur MBG Unhas Tamalanrea, Makassar. (Foto. Redaksi)

JAKARTA, (KUBUS.ID) – Peresmian dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) di kampus, dalam hal ini Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Universitas Hasanuddin, dinilai menjadi representasi dari tata kelola program publik berbasis ilmu pengetahuan.

“Ini bukan hanya dapur dalam pengertian operasional, ini adalah laboratorium hidup. Di sinilah ilmu, riset, inovasi, dan praktik bertemu dalam satu ekosistem yang utuh,” kata Ketua Umum DPP Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) Abdul Rivai Ras dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Senin.

Menurut dia, pendekatan yang dilakukan di Unhas mencerminkan model ideal yang selama ini menjadi tantangan dalam program pembangunan, yakni menjembatani kesenjangan antara dunia akademik dan realitas implementasi di lapangan.

Ia menyebut SPPG Unhas dapat dipahami sebagai bentuk integrasi vertikal antara pusat produksi pengetahuan dan ruang aplikasinya. Mahasiswa, peneliti, dan praktisi kini bekerja dalam satu siklus yang saling menguatkan.

“Selama ini kita sering melihat riset berhenti di meja akademik, sementara praktik berjalan tanpa basis ilmiah yang kuat. Model seperti ini memutus mata rantai tersebut. Apa yang diteliti langsung diuji dan apa yang dijalankan langsung bisa diperbaiki secara ilmiah,” katanya.

Pola seperti ini, sambung dia, telah lama menjadi praktik terbaik di berbagai negara maju. Industri pendidikan tinggi terhubung erat dengan pusat produksi dan inovasi.

Kedekatan antara ruang belajar dan ruang produksi dinilai dapat menciptakan akselerasi dalam validasi teknologi, efisiensi proses, dan peningkatan kualitas hasil (output) secara berkelanjutan.

“Ketika pusat pembelajaran berdiri berdampingan dengan pusat produksi, proses inovasi menjadi jauh lebih cepat, adaptif, dan terukur. Ini yang kita lihat mulai dibangun di Unhas melalui dapur MBG,” ucapnya.

Di samping itu, dia menilai peresmian SPPG Unhas juga memperkuat peran perguruan tinggi sebagai aktor pembangunan. Kampus tidak hanya sebagai penghasil lulusan, tetapi juga sebagai motor penggerak solusi konkret bagi masyarakat.

Model yang dikembangkan di Unhas diharapkan menjadi rujukan nasional dalam pengembangan dapur MBG. Dengan begitu, program ini tidak hanya berjalan secara kuantitatif, tetapi juga berkualitas dan berdampak jangka panjang.

“Ini adalah contoh bagaimana kebijakan publik bertemu dengan keunggulan akademik. Ketika keduanya berjalan bersama, kita tidak hanya menjalankan program, tetapi membangun sistem yang kuat untuk masa depan,” tutur Abdul.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto dan Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana meresmikan SPPG di Unhas, Makassar, Sulawesi Selatan, pada Selasa (28/4).

Brian Yuliarto mengatakan, fasilitas dapur yang dibangun Unhas ini merupakan langkah nyata perguruan tinggi dalam mendukung pelaksanaan program MBG sekaligus memperkuat posisi Unhas sebagai kampus mandiri.

“Intinya adalah bagaimana dari perguruan tinggi bisa menjalankan peran untuk mendukung program prioritas Bapak Presiden, salah satunya adalah program MBG,” kata dia saat peresmian tersebut.

Sementara itu, Dadan Hindayana mengapresiasi komitmen Unhas dalam merespons inisiatif strategis pemerintah. Unhas menjadi perguruan tinggi negeri berbadan hukum (PTNBH) pertama yang membangun SPPG.

“Keterbukaan kampus untuk terlibat dalam program MBG sangat penting karena teknologi, sumber daya manusia, dan inovasi yang dimiliki perguruan tinggi akan banyak manfaatnya untuk pengembangan program ini,” ucap Dadan. (ANTARA/far)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini