Beranda Kediri Raya Menjelang Perayaan Idul Adha, Harga Daging Sapi Masih Stabil Mahal, Pedagang Keluhkan...

Menjelang Perayaan Idul Adha, Harga Daging Sapi Masih Stabil Mahal, Pedagang Keluhkan Penurunan Penjualan  

4
Menjelang Hari Raya Idul Adha, kondisi stand daging sapi di Kota Kediri menunjukkan tren yang kurang menggairahkan. (Foto. Redaksi)

KEDIRI, (KUBUS.ID) – Menjelang Hari Raya Idul Adha, kondisi stand daging sapi di Kota Kediri menunjukkan tren yang kurang menggairahkan. Di Pasar Setono Betek, harga daging sapi terpantau berada di angka Rp125.000 per kilogram, sementara untuk jenis has dalam dibanderol Rp140.000 per kilogram.

Meski harga sempat menyentuh angka Rp120.000 per kilogram beberapa waktu lalu, pergerakan harga ini justru dibarengi dengan penurunan volume penjualan yang cukup tajam. Penurunan minat beli masyarakat ini diakui oleh para pedagang sebagai dampak dari kondisi ekonomi yang sedang tidak menentu.

Meskipun Idul Adha biasanya menjadi momentum peningkatan konsumsi, tahun ini justru terjadi anomali di mana daya beli merosot hingga 30 persen. Faktor ekonomi global disinyalir menjadi penyebab utama lesunya transaksi di pasar tradisional, yang berdampak pada hampir seluruh lini penjualan komoditas pangan.

Endang, salah satu penjual daging sapi di Pasar Setono Betek, mengungkapkan bahwa penurunan omzetnya terasa sangat signifikan dibandingkan hari-hari biasanya. Jika pada kondisi normal ia mampu menjual hingga satu kuintal daging per hari, kini untuk menghabiskan 50 kilogram saja ia harus bekerja ekstra keras.

Penurunan ini tidak hanya terjadi pada pembeli eceran, tetapi juga merambah ke pelanggan yang biasa membeli dalam jumlah besar. Menurut Endang, fluktuasi harga sebenarnya tidak terlalu ekstrem, namun sensitivitas masyarakat terhadap harga sangat tinggi saat ini.

 “Fluktuasinya harga jual sebenarnya tidak terlalu signifikan, tetapi tetap mempengaruhi pembelian masyarakat. Penurunan pembelian pasti terjadi menjelang Idul Adha tahun ini karena faktor ekonomi global, penjualan menurun semuanya,” ujar Endang.

Kondisi ini diperparah dengan berkurangnya pelanggan harian yang biasanya menjadi tulang punggung perputaran modal pedagang. Banyak warga yang mulai menghitung ulang pengeluaran mereka dan memprioritaskan kebutuhan pokok lainnya.

Hal ini membuat stok daging di meja pedagang seringkali tersisa lebih banyak dibandingkan periode menjelang hari raya di tahun-tahun sebelumnya. Sisi lain dari lesunya pasar ini dirasakan langsung oleh konsumen, salah satunya Setiono. Ia mengaku harus memutar otak agar dapur tetap mengepul di tengah beban ekonomi yang dirasa semakin berat.

Meski harga daging tidak mengalami lonjakan yang drastis, baginya harga saat ini tetap terasa membebani anggaran rumah tangga bulanan yang sudah terbatas. Setiono terpaksa memangkas jatah konsumsi daging keluarganya demi menjaga keseimbangan pengeluaran.

“Saya mengaku keteteran meskipun harga daging sapi tidak mengalami kenaikan signifikan. Hanya saja saya harus mengurangi konsumsi daging; biasanya beli 1 kg untuk konsumsi harian, sekarang 1/2 kg saja yang penting ada,” keluh Setiono. (sof)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini