KUBUS.ID – Kebangkitan sektor peternakan di Kabupaten Kediri kian terasa dengan digelarnya kontes ternak di Lapangan Desa Wonorejo, Kecamatan Wates. Kegiatan yang diinisiasi Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) ini sukses menarik ratusan peternak sapi dari berbagai wilayah, sekaligus menjadi penanda pulihnya aktivitas peternakan pascapandemi Covid-19 dan merebaknya penyakit mulut dan kuku (PMK).
Antusiasme peserta terlihat tinggi sejak awal kegiatan. Bagi para peternak, kontes ini bukan sekadar kompetisi, tetapi juga ruang berbagi pengetahuan serta ajang memperkenalkan kualitas sapi lokal, khususnya sapi potong unggulan Kabupaten Kediri.
Peran Bupati Kediri Hanindhito Himawan Pramana menjadi sorotan dalam upaya menghidupkan kembali geliat peternakan daerah. Ia menegaskan bahwa setelah sempat terhenti sejak 2019, kontes ternak tahun ini menjadi momentum penting untuk mendorong pertumbuhan populasi sapi yang saat ini telah mencapai sekitar 216 ribu ekor.
“Kontes ini menjadi pemicu semangat bagi para peternak agar terus meningkatkan kualitas dan jumlah ternaknya. Ini juga bagian dari kontribusi daerah dalam mendukung program ketahanan pangan nasional,” ungkapnya.
Bupati yang akrab disapa Mas Dhito itu juga dinilai konsisten memberikan dukungan terhadap sektor peternakan, mulai dari pemulihan pasca PMK hingga penguatan program berkelanjutan bagi peternak lokal.
Sementara itu, Plt Kepala DKPP Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih, menyampaikan bahwa jumlah peserta yang mencapai 134 peternak menjadi indikasi kuat bahwa ajang ini berpotensi menembus level nasional.
Lebih jauh, ia menilai penyelenggaraan kontes ini menjadi bukti nyata bahwa kondisi kesehatan ternak di Kabupaten Kediri telah pulih secara signifikan, bahkan kini dinyatakan bebas dari PMK.
“Alhamdulillah, kondisi PMK sudah sangat terkendali. Saat ini Kabupaten Kediri sudah zero PMK,” jelas Tutik.
Ia juga menekankan bahwa dukungan penuh dari Bupati Kediri menjadi energi positif dalam membangkitkan kembali sektor peternakan melalui berbagai program dan kegiatan strategis.
Dalam kontes tersebut, sebanyak 134 ekor sapi ditampilkan sebagai representasi kualitas ternak lokal. Jumlah itu menjadi gambaran kecil dari besarnya potensi peternakan di Kabupaten Kediri yang memiliki populasi sapi potong mencapai ratusan ribu ekor.
“Ini adalah miniatur dari kekuatan peternakan yang kita miliki,” tambahnya.
Untuk menambah daya tarik, DKPP menghadirkan 10 kategori perlombaan. Salah satu yang menjadi fokus utama adalah sapi Peranakan Ongole (PO), yang dikenal sebagai plasma nutfah asli Indonesia dan masih banyak dibudidayakan oleh masyarakat Kediri.
Selain itu, kategori sapi hasil inseminasi buatan (IB) juga dilombakan sebagai bentuk apresiasi terhadap upaya peningkatan mutu genetik ternak. Tak kalah menarik, kategori sapi ekstrem dengan bobot besar turut menjadi perhatian, menunjukkan hasil perawatan maksimal dari para peternak.
“Ini membuka peluang pasar yang lebih luas, terutama untuk kebutuhan sapi berbobot tinggi di berbagai daerah,” pungkasnya.(atc/stm)
































