Beranda Opini Berisik Berkedok Sahur: Ketika Niat Baik Menjadi Teror Suara

Berisik Berkedok Sahur: Ketika Niat Baik Menjadi Teror Suara

11

KUBUS.ID – Pukul 02.30 dini hari. Di saat sebagian orang baru saja terlelap atau sedang khusyuk bersujud di atas sajadah, tiba-tiba keheningan pecah. Bukan oleh suara azan yang syahdu, melainkan oleh dentuman musik dari pengeras suara portabel, teriakan-teriakan anarkis lewat toa masjid, hingga aksi pukul kaleng bekas di depan pagar rumah.

“Sahuuur! Sahuuur!” teriak mereka. Niatnya mulia: memastikan umat tidak terlewat santap sahur. Namun, pertanyaannya: Apakah membangunkan orang dengan cara meneror ketenangan adalah bagian dari ajaran agama?

Kesalehan yang Mengganggu

Membangunkan sahur adalah tradisi yang baik, namun belakangan ini telah bergeser menjadi ajang hura-hura yang kehilangan empati. Penggunaan speaker luar dengan volume maksimal atau rombongan pemuda yang berteriak-teriak di pemukiman padat sering kali mengabaikan satu hal mendasar: Hak istirahat orang lain.

Di balik tembok-tembok rumah yang kalian lalui dengan suara bising itu, mungkin ada bayi yang baru saja bisa tidur setelah rewel semalaman. Mungkin ada lansia yang sedang sakit jantung dan kaget karena suara toa yang mendadak. Atau mungkin ada saudara kita non-muslim yang sedang beristirahat untuk bekerja di pagi hari. Di mana letak kesantunan Islam jika kita membangunkan orang puasa dengan cara menyiksa orang yang tidak berkepentingan?

Efisiensi vs Eksistensi

Kritik tajamnya adalah: Di era Ramadan 1447 H ini, hampir setiap orang memiliki smartphone dengan alarm yang bisa diatur sesuai keinginan. Hampir setiap rumah memiliki jam weker. Logika “takut kesiangan” yang digunakan pada tahun 1980-an sudah tidak relevan lagi untuk membenarkan kebisingan yang berlebihan.

Banyak aksi membangunkan sahur kini lebih terasa sebagai ajang eksistensi anak muda daripada kebutuhan ibadah. Mereka lebih menikmati sensasi “menguasai jalanan” dan “menguasai suara” daripada memikirkan efektivitasnya. Jika kita membangunkan orang dua jam sebelum waktu subuh dengan suara yang memekakkan telinga, itu bukan membantu sahur, itu adalah polusi suara yang dibalut jubah religi.

Kritik Pedas: Jika cara Anda mengajak orang beribadah justru membuat orang lain merasa terganggu dan menggerutu, maka Anda tidak sedang menabung pahala, melainkan sedang menabung caci maki.

Kehilangan Adab dalam Beribadah

Nabi Muhammad SAW mengajarkan kita untuk tidak mengganggu tetangga. Bahkan dalam membaca Al-Quran pun, kita dilarang mengeraskan suara jika itu mengganggu orang yang sedang salat atau sedang tidur. Jika membaca kitab suci saja ada aturan volumenya, apalagi hanya untuk sekadar teriakan “Sahur!” yang sering kali dibarengi dengan gurauan tidak jelas.

Kita sering menuntut toleransi dari orang lain, tapi kita sendiri sering gagap memberikan toleransi kepada lingkungan sekitar. Kita merasa karena ini bulan Ramadan, maka kita bebas melakukan apa saja atas nama agama, termasuk merampas hak ketenangan orang lain.

Akhir Kata: Membangunkan dengan Hati, Bukan dengan Emosi

Ramadan 1447 H ini, mari kita kembalikan adab dalam bertetangga. Bagi para pengurus masjid atau pemuda pejuang sahur, gunakanlah cara-cara yang lebih santun. Gunakan speaker dalam, atau jika harus keliling, gunakan suara yang sewajarnya.

Ingat, esensi sahur adalah keberkahan, bukan keributan. Keberkahan tidak akan turun dari cara-cara yang membuat orang lain merasa terzalimi. Jangan sampai niat baikmu untuk membantu orang makan sahur, justru berbuah dosa karena ada tetangga yang merasa terganggu, bayi yang trauma, atau orang sakit yang kondisinya memburuk karena kaget.

Ibadah itu indah jika dilakukan dengan cara yang indah. Jangan jadi “teroris suara” di bulan yang penuh kedamaian ini.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini