KEDIRI, (KUBUS.ID) – BPBD Kota Kediri mulai melakukan langkah pemetaan untuk mengantisipasi dampak musim kemarau panjang. Kalaksa BPBD Kota Kediri, Joko Ariyanto, menyebut ada sejumlah potensi risiko yang perlu diwaspadai.
Pertama, penurunan pasokan air bersih, terutama di wilayah Kelurahan Pojok, Mojototo, Kota Kediri, yang memiliki elevasi lebih tinggi. Kondisi ini berpotensi menyebabkan penyusutan debit air tanah dan sumur warga.
Kedua, ancaman di sektor pertanian dan ketahanan pangan. Lahan pertanian yang masih tersisa di Kota Kediri rentan mengalami gagal panen akibat minimnya pasokan air irigasi. Hal ini juga bisa berdampak pada fluktuasi harga bahan pokok di pasaran.
Ketiga, meningkatnya risiko kebakaran lahan. Cuaca kering disertai angin kencang membuat potensi kebakaran lebih tinggi, terutama di lahan kosong, tumpukan sampah, dan kawasan Ruang Terbuka Hijau (RTH).
Keempat, gangguan kesehatan masyarakat. Penurunan kualitas udara akibat debu saat kemarau ekstrem berpotensi meningkatkan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Menghadapi potensi tersebut, BPBD telah melakukan berbagai upaya mitigasi. Di antaranya pemetaan dan pemantauan wilayah rawan kekeringan, serta pemantauan sumber air secara berkala.
Selain itu, BPBD juga melakukan koordinasi lintas sektor, seperti halnya dengan PDAM dan pihak swasta untuk suplai air bersih, Dinas Pertanian untuk mitigasi gagal panen, Dinas Kesehatan untuk pencegahan ISPA, serta BMKG untuk pemantauan cuaca.
Edukasi kepada masyarakat juga terus dilakukan agar lebih bijak dalam penggunaan air selama musim kemarau.
Joko menambahkan, pihak BMKG memprediksi puncak musim kemarau terjadi pada Agustus mendatang. Namun hingga saat ini, belum ada laporan kejadian kekeringan di wilayah Kota Kediri. (ayu)
































