Beranda Kediri Raya Cegah Fatalitas pada Remaja, Psikolog: Orang Tua Harus Peka terhadap Perubahan Kebiasaan...

Cegah Fatalitas pada Remaja, Psikolog: Orang Tua Harus Peka terhadap Perubahan Kebiasaan Anak

0
Dosen S1 Psikologi IIK Bhakti Wiyata Kediri, Puput Mariyati, M.Psi.

Kediri (KUBUS.ID) – Maraknya fenomena remaja yang memilih mengakhiri hidup menjadi sorotan serius praktisi kesehatan mental. Menanggapi hal tersebut, Dosen Psikologi IIK Bhakti Wiyata, Puput Mariyati, M.Psi., menekankan pentingnya lingkungan terdekat untuk mengenali perubahan perilaku sebagai bentuk deteksi dini.

Dalam wawancara bersama Radio ANDIKA, Puput menjelaskan bahwa tanda-tanda depresi pada remaja dapat diamati dari perubahan kebiasaan sehari-hari. Perubahan emosi yang drastis, gangguan pola makan, hingga kecenderungan mengurung diri bagi mereka yang biasanya aktif bersosialisasi merupakan sinyal peringatan.

“Kita bisa mengamati dari kebiasaan yang ada. Perubahan emosi, biasanya senang ceria jadi lebih tertutup dan mudah marah. Ada juga tanda di postingan sosial media yang mengarah pada tindakan membahayakan diri,” ujar Puput.

Ia menambahkan bahwa pemicu tindakan nekat tersebut biasanya bersifat kompleks, mengintegrasikan faktor eksternal seperti masalah asmara dan relasi sosial dengan faktor internal kepribadian. Remaja yang memiliki kepribadian tertutup atau riwayat kesehatan tertentu cenderung lebih rentan karena kurangnya kemampuan dalam mengelola stres.


Terkait upaya preventif, Puput mengimbau orang tua untuk membangun komunikasi terbuka yang mengedepankan empati. Pendekatan ini dilakukan dengan mendengarkan tanpa interupsi, menjaga kontak mata, dan memberikan afirmasi rasa melalui sentuhan fisik.

Selain komunikasi, ia menyoroti pentingnya keseimbangan dalam pola asuh. Orang tua diharapkan tidak terjebak dalam pola asuh yang terlalu permisif namun tetap peka terhadap kebutuhan psikis anak.

“Batasan aturan anak harus seimbang dengan kepekaan kebutuhan anak. Tidak boleh permisif apa-apa boleh, tapi juga tetap peka. Harus ada keseimbangan antara demand (tuntutan) dan responsiveness (responsivitas),” tegasnya.

Melalui pendekatan yang inklusif dan peka terhadap perubahan sekecil apa pun, diharapkan risiko fatalitas akibat tekanan mental pada remaja dapat ditekan sedini mungkin. (nhd)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini