TULUNGAGUNG, (KUBUS.ID) – Pemerintah Kabupaten Tulungagung melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) sedang berfokus pada pembangunan jalan sirip yang jadi akses utama menuju Jalur Lintas Selatan (JLS). Memasuki bulan ini, sejumlah titik prioritas yang mayoritas merupakan jalur wisata mulai masuk dalam tahapan perencanaan hingga kontrak pelaksanaan.
Plt Kabid Bina Marga Dinas PUPR Kabupaten Tulungagung, Ahmad Rifai Sodik, menjelaskan bahwa fokus kegiatan saat ini tertuju pada penguatan infrastruktur pendukung di wilayah selatan. Langkah ini diambil sebagai bentuk sinkronisasi program daerah dengan proyek strategis nasional JLS yang telah terbangun.
“Sampai dengan bulan April ini progres kegiatan, khususnya akses menuju jalur lintas selatan yang kebanyakan akses wisata, untuk bulan April ini proses perencanaan,” sebutnya.
Salah satu titik yang menjadi perhatian adalah ruas jalan Rejosari-Sine. Rifai menyebutkan bahwa proyek di lokasi tersebut sudah masuk dalam tahap kontrak perencanaan. Tim teknis bahkan telah melakukan survei pendahuluan di lapangan serta mendengarkan paparan dari pihak konsultan untuk menentukan langkah konstruksi selanjutnya.
Rencananya, perbaikan ruas Rejosari-Sine ini akan membentang sepanjang 8 kilometer, dimulai dari pertigaan Balai Desa Rejosari hingga titik JLS. Mengingat medan dan kebutuhan beban jalan, Dinas PUPR akan menerapkan dua jenis konstruksi, yakni pengaspalan (hotmix) dan pembetonan.
“Mungkin hampir 85 persen itu pekerjaannya beton. Yang hotmix itu yang awal dan akhir. Untuk ruas Sine itu kita pagunya Rp 21 miliar,” terangnya.
Selain perbaikan badan jalan, pihaknya juga memprioritaskan normalisasi gorong-gorong di sepanjang jalur tersebut yang selama ini tersumbat material longsor agar aliran air kembali lancar.
Selain ruas Rejosari-Sine, progres signifikan juga terlihat pada ruas Kalitalun-Sine. Berbeda dengan titik sebelumnya, ruas ini sudah memasuki tahap kontrak pelaksanaan dan diprediksi mulai dikerjakan dalam satu atau dua minggu ke depan. Pengerjaan akan dimulai dari pertigaan SMP Tanggunggunung ke arah selatan menuju Desa Jengglungharjo.
“Semua pekerjaannya total beton kalau itu. Panjangnya 2,5 kilometer. Kalitalun-Sine menuju Jengglungharjo itu pagu anggarannya Rp 6,7 miliar,” bebernya.
Rifai menambahkan, pihaknya juga tengah menyusun Detailed Engineering Design (DED) untuk ruas Pucanglaban-Molang sepanjang 1,5 kilometer dengan alokasi anggaran Rp 6 miliar. Jalur ini nantinya akan menyambung dengan konstruksi beton yang sudah dibangun pada tahun-tahun sebelumnya.
Selain itu, pada pertengahan tahun ini, perbaikan juga akan menyasar wilayah Brumbun melalui skema anggaran APBD senilai Rp 2,5 miliar.
Upaya percepatan ini dilakukan bukan tanpa alasan. Keberadaan jalan sirip yang memadai dianggap vital untuk menghidupkan ekosistem ekonomi dan pariwisata yang terkoneksi dengan JLS.
“Katakan dari pemerintah pusat sudah dibangunkan JLS itu. Jadi kita harus mendukung awalnya mesti dari jalan nasional karena prioritas nasional. Mesti kalau ada anggaran itu dulu yang diprioritaskan,” kata dia.
Berdasarkan data Dinas PUPR, total panjang jalan sirip yang tercatat mencapai 50 kilometer. Dari total panjang tersebut, pemerintah daerah menargetkan perbaikan bisa menyentuh angka 50 persen pada tahun anggaran ini, mencakup ruas-ruas besar seperti Molang dan Dlodo.
“Di total jalan sirip itu 50 kilometer. Targetnya tahun ini bisa memperbaiki 50 persen dari total jalan sirip tersebut,” jelasnya. (dit)
































