KUBUS.ID –Kenaikan biaya operasional membuat penyesuaian tarif angkutan umum menjadi opsi yang sulit dihindari. Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Organisasi Angkutan Darat (Organda) Jawa Timur, Firmansyah Mustafa, mengatakan penyesuaian tarif sangat mungkin dilakukan jika beban operasional terus meningkat.
Firmansyah mengatakan, operator angkutan tidak memiliki banyak pilihan untuk menekan biaya. Mengurangi fasilitas pelayanan maupun aspek keselamatan bukanlah opsi yang akan ditempuh. Menurutnya, langkah yang lebih realistis adalah mengurangi jumlah armada yang beroperasi.
“Kalau mengurangi pelayanan tidak bisa. Apalagi sampai mengurangi keselamatan, itu tidak akan pernah kami lakukan. Paling mungkin mengurangi jumlah armada yang beroperasi,” ujar Firmansyah kepada Radio Andika.
Ia menjelaskan, meski tarif yang berlaku saat ini masih memberikan sedikit margin, besaran keuntungan tersebut belum ideal. Karena itu, sejumlah perusahaan otobus memilih mengurangi frekuensi perjalanan agar operasional tetap berjalan dan kru tetap memperoleh penghasilan.
Selain isu tarif, Organda Jatim juga meminta pemerintah mempertahankan keberadaan BBM bersubsidi bagi angkutan umum. Firmansyah menilai penyaluran subsidi harus lebih tepat sasaran dengan memprioritaskan kendaraan berpelat kuning yang memiliki izin usaha dan pajak kendaraan aktif.
“Plat kuning saja yang boleh mendapatkan solar subsidi. Plat hitam tidak boleh, termasuk kendaraan diesel pribadi. Kalau pajaknya mati juga tidak boleh. Jadi tidak perlu lagi sistem barcode yang rumit,” tegasnya.
Menurut Firmansyah, mekanisme penyaluran subsidi bisa disederhanakan melalui integrasi data dengan Samsat. Dengan cara tersebut, BBM bersubsidi diharapkan benar-benar dinikmati oleh angkutan umum yang berhak, sekaligus menjaga keberlangsungan usaha transportasi darat di tengah naiknya biaya operasional. (rif)































