Beranda Kediri Raya Bangkitkan Tradisi Leluhur, Kelurahan Ngadirejo Gelar Kirab Gunungan dan Pawai Ta’aruf 1...

Bangkitkan Tradisi Leluhur, Kelurahan Ngadirejo Gelar Kirab Gunungan dan Pawai Ta’aruf 1 Muharram 1448 H

1186

KEDIRI, (KUBUS.ID) – Semangat kebersamaan dan pelestarian budaya lokal mewarnai peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Kelurahan Ngadirejo, Kota Kediri. Melalui pawai ta’aruf dan kirab gunungan hasil bumi, masyarakat bersama pemerintah kelurahan Ngadirejo Kota Kediri menghidupkan kembali tradisi yang telah puluhan tahun tidak dilaksanakan.

Ratusan warga tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan yang menjadi simbol rasa syukur sekaligus upaya menjaga warisan budaya leluhur. Gunungan yang berisi aneka hasil bumi dan produk usaha masyarakat diarak mengelilingi wilayah kelurahan sebelum akhirnya menjadi rebutan warga sebagai bentuk harapan akan datangnya keberkahan.

Lurah Ngadirejo, Heru Sugianto, mengatakan kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan sosial antarwarga sekaligus menghidupkan kembali tradisi yang pernah berkembang di tengah masyarakat sebelum tahun 1965.

“Harapan kami, kegiatan yang baru pertama kali digelar kembali ini dapat mempererat kerukunan dan kebersamaan masyarakat Kelurahan Ngadirejo. Dalam sejarahnya, tradisi seperti ini pernah rutin dilaksanakan sebelum tahun 1965, kemudian lama vakum. Kini kami mencoba merintis kembali sebagai upaya nguri-uri budaya leluhur sekaligus memanjatkan doa agar masyarakat senantiasa diberikan kesejahteraan dan keberkahan,” ujar Heru.

Menurut Heru, gagasan untuk menghidupkan kembali tradisi tersebut muncul dari berbagai diskusi bersama tokoh masyarakat dan para sesepuh yang masih mengingat pelaksanaan kegiatan serupa pada era 1960-an.

“Informasi dari para sesepuh menyebutkan tradisi ini pernah ada pada tahun 60-an. Karena itu kami berinisiatif menghidupkannya kembali sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus memperkuat persatuan warga,” katanya.

Keberhasilan penyelenggaraan kegiatan ini tidak lepas dari partisipasi aktif masyarakat. Gunungan yang menjadi ikon perayaan disusun dari berbagai sumbangan warga, khususnya para pedagang yang mendominasi mata pencaharian masyarakat Kelurahan Ngadirejo.

“Semua dikumpulkan dari masyarakat. Alhamdulillah para pedagang dan warga sangat mendukung kegiatan ini dengan menyedekahkan sebagian hasil usahanya sebagai wujud rasa syukur kepada Allah SWT,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Heru menjelaskan bahwa gunungan yang diarak bukan sekadar simbol kemeriahan acara, melainkan memiliki makna filosofis yang mendalam. Hasil bumi berupa sayuran dan berbagai produk hasil industri yang menghiasi gunungan menggambarkan keberagaman profesi dan latar belakang masyarakat yang hidup berdampingan dalam harmoni.

“Maknanya adalah persatuan. Di sini ada hasil bumi dan barang-barang pabrikan yang menggambarkan berbagai elemen masyarakat. Tidak ada perbedaan kasta maupun jabatan, semuanya bersatu, saling menghormati, dan memiliki tujuan yang sama, yakni memohon keberkahan kepada Tuhan Yang Maha Esa,” jelasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi A sekaligus Ketua Bapemperda Kota Kediri, Afif Fahrudin Wijaya, SE, mengapresiasi inisiatif masyarakat dan Pemerintah Kelurahan Ngadirejo yang berhasil menghidupkan kembali tradisi budaya yang sarat nilai kebersamaan tersebut.

Menurut Afif, peringatan 1 Muharram tidak hanya menjadi momentum spiritual, tetapi juga sarana memperkuat identitas budaya dan penghormatan terhadap jasa para leluhur.

“Tujuan peringatan 1 Muharram ini adalah untuk nguri-uri budaya dan menghormati para leluhur yang telah mewariskan nilai-nilai kehidupan kepada kita. Melalui kegiatan ini, kami ingin mengajak masyarakat untuk terus menjaga adab, menghargai sejarah, serta mempererat kebersamaan di Kelurahan Ngadirejo,” ujar Afif.

Ia menambahkan, kirab gunungan yang tahun ini digelar untuk pertama kalinya menjadi simbol kebangkitan tradisi yang diharapkan dapat terus diwariskan kepada generasi berikutnya.

“Alhamdulillah, tahun ini untuk pertama kalinya kami mengadakan kirab gunungan yang dimulai dari Punden Setono dan berakhir di makam Kelurahan Ngadirejo. Harapan kami, kegiatan ini dapat semakin memperkuat kerukunan warga, menjaga suasana yang guyub dan harmonis, serta membawa kesehatan dan kelancaran bagi seluruh masyarakat. Semoga tradisi ini dapat terus dilaksanakan pada tahun-tahun mendatang,” tambahnya.

Kegiatan yang diikuti lebih dari 500 peserta tersebut melibatkan berbagai unsur masyarakat, mulai dari lembaga kemasyarakatan kelurahan, tokoh masyarakat, kelompok pengajian, hingga warga dari berbagai lingkungan di Kelurahan Ngadirejo.

Melalui semangat gotong royong dan kebersamaan yang ditunjukkan dalam peringatan 1 Muharram 1448 H, Kelurahan Ngadirejo tidak hanya menghidupkan kembali sebuah tradisi yang sempat terhenti selama puluhan tahun, tetapi juga memperkuat nilai-nilai persatuan yang menjadi fondasi kehidupan bermasyarakat.(atc)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini