Beranda Gaya Hidup Jangan Salah Paham, Pendidikan Seks Bisa Cegah HIV pada Remaja

Jangan Salah Paham, Pendidikan Seks Bisa Cegah HIV pada Remaja

0
Sosialisasi mencegah penularan HIV/AIDS di sekolah. (Foto : istimewa)

TULUNGAGUNG, KUBUS.ID – Di tengah meningkatnya akses remaja terhadap informasi di media sosial, pendidikan seksualitas dinilai menjadi salah satu langkah penting untuk mencegah penularan HIV/AIDS. Edukasi yang benar diyakini mampu membantu remaja memahami kesehatan reproduksi, mengendalikan diri, serta menghindari perilaku seksual berisiko yang dapat menjadi pintu masuk penularan HIV.

Ifada Nur Rohmania M.Psi., Sekretaris I Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) Kabupaten Tulungagung menyampaikan remaja saat ini memasuki masa pubertas sehingga membutuhkan informasi yang benar mengenai perubahan tubuh, kesehatan reproduksi, hingga cara mengelola dorongan seksual. Tanpa pendampingan yang tepat, remaja berpotensi memperoleh informasi yang keliru dari media sosial maupun konten pornografi.

“Pendidikan seksualitas itu bukan mengajarkan cara berhubungan seksual. Yang diajarkan adalah mengenal kesehatan reproduksi, mengenal tubuh, identitas seksual, kontrol diri, serta memahami risiko ketika melakukan hubungan seksual sebelum menikah,” jelas Ifada.

Ia menambahkan, KPAD Tulungagung terus mengampanyekan edukasi melalui konsep “Sayang Tanpa Telanjang”. Kampanye tersebut mengajarkan bahwa tubuh merupakan ranah pribadi yang harus dijaga serta menanamkan keberanian kepada remaja untuk mengatakan tidak terhadap ajakan yang berisiko. Edukasi juga mencakup bahaya kejahatan siber, hubungan virtual, hingga risiko infeksi menular seksual yang dapat berkembang menjadi HIV apabila seseorang berganti-ganti pasangan seksual.

Menurut Ifada, publikasi data kasus HIV yang dilakukan pemerintah bukan bertujuan menimbulkan kepanikan, melainkan mengajak masyarakat lebih peduli terhadap pencegahan. Data tersebut menjadi dasar bagi berbagai pihak untuk bersama-sama melakukan edukasi. Di Tulungagung, upaya pencegahan melibatkan Dinas Kesehatan, puskesmas, sekolah, organisasi masyarakat, hingga Komisi Penanggulangan AIDS Daerah (KPAD) melalui pendekatan kolaboratif atau pentahelix.

Ia menegaskan, masih adanya kemungkinan kasus HIV yang belum terdeteksi menjadi alasan edukasi harus terus dilakukan secara berkelanjutan. Karena itu, seluruh elemen masyarakat diharapkan ikut menghilangkan stigma terhadap pendidikan seksualitas dan mendukung penyampaian informasi yang benar agar remaja mampu melindungi diri dari perilaku berisiko sekaligus menekan angka penularan HIV/AIDS. (art)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini