KEDIRI, KUBUS.ID – Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) bukan sekadar agenda penyambutan peserta didik baru. Lebih dari itu, MPLS menjadi tahap penting dalam membentuk karakter mandiri, kemampuan beradaptasi, dan kehidupan sosial anak di lingkungan pendidikan yang baru.
Memasuki tahun ajaran baru, seluruh sekolah mulai melaksanakan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Program ini menjadi momentum awal bagi peserta didik untuk mengenal lingkungan sekolah, guru, hingga teman-teman baru yang akan menjadi bagian dari proses belajar mereka.
Psikolog Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Dr. Miftakhul Jannah, S.Psi., M.Psi, menilai keberhasilan MPLS tidak hanya ditentukan oleh sekolah, tetapi juga membutuhkan dukungan aktif dari orang tua.
“MPLS menjadi awal bagi peserta didik mengenal sekolah, teman baru, dan tenaga pengajar. Orang tua perlu memberikan semangat kepada anak agar mampu beradaptasi, namun pendampingan juga harus dilakukan secara bertahap agar anak belajar mandiri,” ujar Dr. Miftakhul Jannah saat On Air bersama jurnalis Andika Media, Eko Supriadi.
Menurutnya, peserta didik yang baru memasuki jenjang sekolah dasar umumnya masih membutuhkan pendampingan. Namun, intensitas pendampingan tersebut perlu dikurangi secara perlahan agar anak tidak tumbuh dengan ketergantungan terhadap orang tua.
Ia menjelaskan, setiap anak memiliki kemampuan adaptasi yang berbeda. Ada yang mampu cepat menyesuaikan diri karena telah terbiasa bersosialisasi, tetapi tidak sedikit yang memerlukan waktu lebih lama bahkan merasa tidak nyaman dengan lingkungan baru. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi semangat anak untuk bersekolah.
Karena itu, orang tua diharapkan memiliki kepekaan terhadap kondisi psikologis anak selama masa transisi memasuki lingkungan pendidikan yang baru. Pendampingan tetap diperlukan agar anak merasa aman, namun tidak berlebihan sehingga menghambat proses belajar mandiri.
“Melepas anak sepenuhnya tanpa pendampingan bukan pilihan yang tepat, tetapi mendampingi secara terus-menerus juga dapat menghambat anak menikmati lingkungan sekolah barunya. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara memberikan dukungan dan melatih kemandirian,” jelasnya.
Dr. Miftakhul Jannah menambahkan, aspek nonakademik seperti kenyamanan, rasa aman, serta kemampuan membangun hubungan sosial memiliki pengaruh besar terhadap keberhasilan proses belajar anak di sekolah.
Melalui pelaksanaan MPLS, sekolah diharapkan tidak hanya mengenalkan tata tertib dan lingkungan belajar, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembentukan karakter peserta didik. Sinergi antara sekolah, tenaga pendidik, dan orang tua menjadi kunci terciptanya lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, serta mendukung perkembangan anak secara menyeluruh.
“MPLS diharapkan menjadi metodologi pendidikan yang lebih komprehensif untuk membentuk kemandirian dan karakter anak didik dalam menghadapi lingkungan baru. Sinergi antara tenaga pendidik, lembaga pendidikan, dan orang tua menjadi fondasi penting untuk menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan aman,” pungkasnya.(eko/rif)































