KUBUS.ID – Kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan selama tiga tahun di Kabupaten Bandung memunculkan pertanyaan besar: mengapa korban bisa bertahan begitu lama dalam hubungan yang menyakitkan? Psikolog Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Dr. Miftah Khuljanah, S.Psi., M.Si., menyebut kondisi tersebut berkaitan dengan toxic relationship yang kerap dibangun secara perlahan melalui manipulasi.
Menurut Miftah, pelaku dalam hubungan yang tidak sehat biasanya menciptakan ketergantungan emosional pada korban. Korban dibuat merasa hanya memiliki pelaku sebagai satu-satunya tempat bergantung, sehingga berbagai tindakan kekerasan maupun perlakuan tidak wajar dianggap sebagai sesuatu yang bisa dimaklumi.
“Sering kali korban dijauhkan dari orang-orang yang menjadi support system-nya. Akhirnya dia hanya bergantung kepada satu orang. Ketika terjadi kesalahan atau kekerasan, korban cenderung memaklumi karena menganggap pelaku adalah orang terdekatnya,” ujar Miftah.
Ia mengingatkan bahwa cinta tidak cukup hanya mengandalkan perasaan. Menurutnya, logika dan kemampuan mencintai diri sendiri juga penting agar seseorang tidak terjebak dalam hubungan yang manipulatif.
“Cinta itu bukan sekadar anugerah, tetapi juga ujian. Logika juga perlu. Kalau seseorang sudah tidak bisa menjadi dirinya sendiri dalam sebuah hubungan, maka itu tanda yang harus diwaspadai,” katanya.
Miftah juga menyoroti peran media sosial yang kerap membuat seseorang jatuh cinta pada citra yang ditampilkan, bukan pada pribadi yang sebenarnya. Ia mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terbuai oleh kata-kata dan pencitraan di dunia maya tanpa mengenal pasangan secara utuh.
“Relationship itu dijalani manusia dengan manusia, bukan dengan media sosial. Perasaan nyaman, nilai spiritual, dan dukungan lingkungan sekitar juga harus menjadi pertimbangan. Jangan abaikan warning yang sebenarnya sudah diberikan oleh diri sendiri,” tuturnya. (art)





























