Beranda Event Mahasiswa Jangan Sekadar FOMO, Gerakan Harus Berbasis Data dan Gagasan

Mahasiswa Jangan Sekadar FOMO, Gerakan Harus Berbasis Data dan Gagasan

18
Dr. Yudi Krisno Wicaksono M.IP Dosen Ilmu Politik UIN Satu Tulungagung (foto:redaksi)
KEDIRI, KUBUS.ID – Gelombang aksi mahasiswa yang belakangan kembali mengemuka dinilai menjadi bagian penting dalam dinamika demokrasi. Namun, gerakan tersebut tidak boleh sekadar menjadi tren atau ikut-ikutan, melainkan harus lahir dari kajian yang matang dan berpijak pada kepentingan publik.

Dosen Ilmu Politik UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung, Dr. Yudi Krisno Wicaksono M.IP., mengatakan mahasiswa memiliki peran sebagai agent of change atau agen perubahan yang menjadi ujung tombak dalam mendorong perbaikan kehidupan berbangsa dan bernegara. Menurutnya, gerakan mahasiswa bersama elemen masyarakat perlu mendapat dukungan selama dilakukan secara bertanggung jawab dan berdasarkan data yang valid.

“Mahasiswa sebagai agen perubahan harus memahami persoalan yang diperjuangkan. Jangan hanya ikut tren atau FOMO aksi turun ke jalan. Setiap gerakan harus dipersiapkan dengan kematangan, melalui telaah dan data yang konkret agar aspirasi yang disampaikan tepat sasaran,” kata Yudi saat On Air bersama Jurnalis Radio ANDIKA Eko Supriadi.

Yudi menjelaskan, penyampaian aspirasi tidak selalu harus dilakukan melalui demonstrasi. Masih banyak ruang yang bisa dimanfaatkan, mulai dari dialog dengan pemerintah, legislator, hingga forum diskusi yang melibatkan para pemangku kebijakan. Karena itu, kesamaan persepsi antarelemen yang terlibat dalam gerakan menjadi faktor penting agar tujuan yang diperjuangkan dapat tercapai.

“Pilihan turun ke jalan harus didasari pemahaman yang utuh terhadap persoalan. Data yang digunakan pun harus lengkap, bukan hanya berdasarkan film atau informasi sepihak yang dijadikan pembenar,” ujarnya.

Ia menambahkan, gerakan mahasiswa tidak seharusnya dipandang sebagai ancaman bagi pemerintah. Sebaliknya, keterbukaan terhadap kritik dan aspirasi publik menjadi syarat penting untuk melahirkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat.

“Penyampaian aspirasi oleh mahasiswa jangan dianggap sebagai tekanan atau ancaman bagi penguasa. Pemerintahan yang terbuka terhadap diskusi dan mau menerima aspirasi justru akan menghasilkan perbaikan yang lebih berpihak kepada masyarakat,” pungkasnya.(eko)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini