KEDIRI, KUBUS.ID – Temuan Kementerian Kesehatan yang mencatat sekitar 2,2 juta remaja di Indonesia mengalami tekanan darah di atas normal menjadi perhatian serius dunia kesehatan. Kondisi tersebut dinilai tidak bisa dianggap sebagai hal yang wajar karena berpotensi memicu berbagai penyakit kronis pada usia produktif.
Dokter Spesialis Jantung RSUD Simpang Lima Gumul (SLG), dr. Muhammad Firdaus, SpJP, mengatakan hipertensi pada remaja merupakan sinyal bahaya yang harus segera ditangani. Menurutnya, tekanan darah tinggi sejak usia muda dapat menjadi pemicu munculnya komplikasi penyakit di kemudian hari.
“Tekanan darah di atas normal pada remaja bukan kondisi yang bisa dianggap biasa. Ini menjadi alarm karena dapat menjadi pemicu berbagai komplikasi penyakit saat usia mereka semakin bertambah,” kata dr. Firdaus saat on air bersama jurnalis Andika Media, Eko Supriadi.
Ia menjelaskan, perubahan gaya hidup menjadi penyebab utama meningkatnya kasus hipertensi pada kelompok usia remaja. Kemudahan memperoleh makanan cepat saji dan minuman manis dinilai menjadi salah satu faktor yang paling berpengaruh.
“Pola hidup atau lifestyle masih menjadi penyebab utama. Konsumsi junk food yang tinggi natrium atau garam, ditambah minuman dengan kadar gula tinggi, sangat berpotensi meningkatkan tekanan darah pada remaja,” ujarnya.
Menurut dr. Firdaus, kandungan natrium yang berlebihan dapat membuat tekanan darah meningkat secara perlahan tanpa disadari. Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, risiko kerusakan pembuluh darah akan semakin besar.
“Hipertensi dapat merusak pembuluh darah yang menuju otak maupun jantung. Dampaknya bisa berupa stroke, penyakit jantung koroner, hingga gangguan kesehatan lain yang muncul saat usia masih produktif,” jelasnya.
Tak hanya itu, hipertensi yang tidak terkendali juga dapat merusak fungsi ginjal. Kondisi tersebut menjadi salah satu penyebab meningkatnya kasus gagal ginjal pada usia muda.
“Selain jantung dan stroke, organ ginjal juga bisa terdampak. Tidak sedikit pasien usia produktif yang akhirnya harus menjalani cuci darah karena fungsi ginjalnya mengalami penurunan akibat tekanan darah yang tidak terkontrol,” ungkapnya.
Ia menambahkan, kebiasaan kurang bergerak atau mager semakin memperburuk kondisi tersebut. Minimnya aktivitas fisik membuat metabolisme tubuh terganggu sehingga risiko hipertensi semakin meningkat.
“Kalau sudah tekanan darahnya tinggi kemudian aktivitas fisiknya minim, tentu risikonya akan semakin besar. Karena itu remaja harus mulai membiasakan diri berolahraga secara rutin,” katanya.
Untuk mencegah hipertensi sejak dini, dr. Firdaus mengimbau masyarakat, khususnya kalangan remaja, agar menerapkan pola hidup sehat. Mulai dari mengurangi konsumsi makanan cepat saji, membatasi makanan tinggi lemak, garam, dan gula, serta memperbanyak aktivitas fisik setiap hari.
“Kuncinya ada pada pola hidup sehat. Kurangi junk food, batasi makanan tinggi garam, gula, dan lemak, perbanyak makanan bergizi, serta imbangi dengan olahraga secara rutin. Langkah sederhana ini sangat efektif untuk mencegah hipertensi sejak usia muda,” pungkasnya.(eko/art)





























