KEDIRI, KUBUS.ID – Memasuki bulan Agustus, semangat nasionalisme dan patriotisme kembali menjadi perhatian. Namun di tengah derasnya perkembangan teknologi dan budaya digital, cara menumbuhkan kecintaan terhadap Tanah Air dinilai harus ikut beradaptasi dengan karakter generasi muda.
Dosen Ilmu Komunikasi UIN Sayyid Ali Rahmatullah (UIN SATU) Tulungagung, Dimas Prakoso, S.Kom., M.A, menilai nasionalisme generasi saat ini sebenarnya tidak memudar. Menurutnya, bentuk perjuangan hanya berubah mengikuti perkembangan zaman.
“Nasionalisme dan patriotisme generasi sekarang tidak hilang. Perjuangannya bukan lagi mengangkat bambu runcing atau senjata, melainkan menghadapi tantangan di era digital. Cara menanamkan nilai kebangsaan juga harus mengikuti perkembangan zaman agar dapat diterima oleh Generasi Z dan Generasi Alfa,” ujar Dimas.
Ia menjelaskan, upacara bendera dan berbagai tradisi peringatan kemerdekaan tetap memiliki nilai penting. Namun, kegiatan tersebut tidak bisa menjadi satu-satunya cara membangun rasa cinta Tanah Air. Pemerintah dinilai perlu menghadirkan materi kebangsaan yang dikemas lebih kreatif melalui berbagai platform digital yang dekat dengan kehidupan generasi muda.
Menurut Dimas, sejumlah negara telah memanfaatkan media digital sebagai sarana pendidikan nasionalisme dan patriotisme. Langkah serupa dinilai perlu diperkuat di Indonesia agar nilai kebangsaan tidak berhenti pada seremoni maupun retorika semata.
“Pemerintah perlu menghadirkan wawasan kebangsaan dalam bentuk yang menarik, mudah dipahami, dan hadir di platform yang setiap hari digunakan anak muda. Dengan begitu, nasionalisme tidak hanya menjadi slogan, tetapi tumbuh menjadi kesadaran bersama,” katanya.
Dimas juga menyoroti fenomena sebagian warga negara Indonesia yang memilih melepaskan status kewarganegaraannya. Menurutnya, kondisi tersebut tidak seharusnya dianggap sebagai hal biasa, melainkan menjadi bahan evaluasi untuk memperkuat rasa memiliki terhadap bangsa melalui kebijakan yang lebih menyentuh generasi muda.
Meski demikian, ia optimistis semangat kebangsaan masyarakat Indonesia tetap kuat. Tantangan ke depan bukan mempertanyakan masih ada atau tidaknya nasionalisme, melainkan bagaimana seluruh elemen bangsa mampu menanamkan nilai tersebut dengan pendekatan yang relevan di era digital.
“Saya optimistis jiwa patriotisme dan nasionalisme generasi saat ini tidak akan hilang. Yang perlu berubah adalah cara kita menanamkannya. Ketika pendekatannya sesuai dengan perkembangan zaman, rasa cinta kepada Indonesia justru akan semakin kuat,” pungkasnya.(eko/sof)































