
JOMBANG, KUBUS.ID – Kiblat nakhoda baru jamiyah terbesar di dunia resmi bergeser. Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang menjadi saksi sejarah kembalinya trah pendiri ke tampuk kepemimpinan tertinggi. KH Abdul Hakim Mahfudz, atau yang karib disapa Gus Kikin, resmi terpilih sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) masa khidmat 2026–2031.
Gus Kikin tidak sekadar menang; ia mendominasi sejak genderang kontestasi ditabuh.
Atmosfer Gedung Serba Guna (GSG) Tambakberas mendadak senyap saat KH Anwar Iskandar membacakan hasil keputusan sidang tertutup sembilan ulama sepuh Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA). “Memutuskan secara mufakat memilih KH Abdul Hakim Mahfudz sebagai Ketua Umum PBNU,” ujar Kiai Anwar, diikuti ketukan palu yang disambut gemuruh salawat ratusan muktamirin, Senin (31/8).
Sebelum palu AHWA diketuk, dominasi Gus Kikin sudah terbaca pada Sidang Pleno V. Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng itu menyapu bersih dukungan akar rumput dengan raihan 472 suara. Angka itu terpaut jauh di atas para pesaingnya: KH Zulfa Mustofa (262 suara), KH Abdussalam Sochib (261 suara), KH Yahya Cholil Staquf (258 suara), dan KH Abdul Ghofar Rozin (155 suara).
Lahir dari rahim pesantren, Gus Kikin membawa silsilah emas. Ia adalah cicit langsung dari sang pendiri NU, Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari. Sepupu jauh mendiang Gus Dur ini memikul ekspektasi besar warga Nahdliyin yang merindukan marwah organisasi yang teduh dan bersih dari pusaran politik praktis.
Langkah pertama cicit sang mahaguru ini langsung menghentak. Usai ditetapkan, Gus Kikin langsung menandatangani pakta integritas di hadapan para kiai sepuh. Di tangannya, NU dibawa pulang pada khitah asalnya: penguatan kembali dokumen dasar Qanun Asasi, penataan adab, kemandirian ekonomi, serta pembenahan aset umat secara profesional.
“Ini amanah, bukan niat pribadi,” tegas Gus Kikin dengan nada tenang namun berwibawa. “NU harus tetap rukun, menjadi tempat membangun kebersamaan dan ukhuwah. Kita berjalan beriringan membangun bangsa tanpa harus kehilangan jati diri,” tambahnya menekankan posisi konstruktif NU terhadap negara.
Duet kepemimpinan PBNU kini genap. Gus Kikin akan mengomandani barisan Tanfidziyah, bersanding dengan KH Miftachul Akhyar yang kembali dipercaya mengemban amanah sebagai Rais Aam PBNU. Dari Jombang, fajar baru abad kedua Nahdlatul Ulama resmi dimulai.(adr)





























