Beranda Kediri Raya Pemkab Kediri Percepat Revitalisasi Pasar, Ngadiluwih dan Pare Jadi Prioritas

Pemkab Kediri Percepat Revitalisasi Pasar, Ngadiluwih dan Pare Jadi Prioritas

2091
94b1f7ab91df21de82cc1bbfedb4bd1859bf805a9c3e841d8aeaf6702257ed36?s=64&d=mm&r=g

Redaksi KubusandikaSunting Profil

KEDIRI,KUBUS.ID – Pemerintah Kabupaten Kediri melalui Dinas Perdagangan dan Perindustrian (Disperdagin) terus mempercepat pembenahan pasar, termasuk melanjutkan pekerjaan di Pasar Ngadiluwih dan menambah fasilitas di Pasar Induk Pare.

Kepala Disperdagin Kabupaten Kediri, drh. Tutik Purwaningsih, mengatakan program tersebut sudah berlangsung sepanjang 2026. Pembenahan dilakukan untuk meningkatkan kenyamanan pedagang sekaligus menarik lebih banyak masyarakat kembali berbelanja di pasar rakyat.

Menurut Tutik, revitalisasi utama Pasar Ngadiluwih sebenarnya telah selesai pada 2025 dengan anggaran sekitar Rp26 miliar. Namun, masih ada sejumlah fasilitas yang perlu disempurnakan, salah satunya penerangan di dalam pasar.

Pada 2026, Pemkab Kediri mengalokasikan sekitar Rp1,2 miliar untuk menyelesaikan fasilitas yang belum tuntas tersebut. Setelah proses penyempurnaan selesai, pedagang ditargetkan mulai dipindahkan ke bangunan pasar yang telah direvitalisasi.

Sesuai arahan pimpinan, 2026 ini pedagang insyaallah sudah kami geser di Pasar Ngadiluwih,” kata Tutik.

Selain Ngadiluwih, pembenahan juga dilakukan di Pasar Induk Pare. Pemkab Kediri menambah satu los besar dengan anggaran sekitar Rp2,7 miliar.

Penambahan fasilitas tersebut ditujukan untuk menampung pedagang yang belum mendapatkan tempat sekaligus membuat aktivitas jual beli lebih tertata. Pemerintah berharap kondisi pasar yang lebih nyaman dapat mendorong masyarakat kembali berbelanja di pasar rakyat.

Tutik menyebut revitalisasi pasar tidak berhenti pada dua lokasi tersebut. Sejumlah pasar lain seperti Pasar Gurah, Pasar Kandangan dan Pasar Pamenang juga masih menjadi pekerjaan rumah Pemkab Kediri.

Namun, revitalisasi tidak bisa dilakukan sekaligus karena membutuhkan anggaran besar dan persiapan matang. Pemerintah juga harus menyiapkan Tempat Penampungan Pedagang Sementara (TPPS) sebelum pasar dibangun agar aktivitas perdagangan tidak terhenti.

“Jangan sampai aktivitas pedagang berhenti mungkin selama setahun, selama setahun setengah. Jadi perlu dibuatkan TPPS dulu,” jelasnya.

Tutik menegaskan, membangun pasar dengan fasilitas bagus bukan satu-satunya tantangan. Setelah revitalisasi, pemerintah, pedagang dan masyarakat harus bersama-sama menjaga kebersihan, ketertiban dan kenyamanan pasar.

Pedagang juga didorong menata dagangan agar lebih menarik dan menyesuaikan diri dengan perubahan perilaku konsumen. Pasalnya, pasar rakyat kini harus bersaing dengan e-commerce, minimarket hingga supermarket.

Konsep pasar tematik dan wisata menjadi salah satu upaya yang tengah dikembangkan Pemkab Kediri. Pasar Wates disebut menjadi salah satu contoh yang dikembangkan sebagai pilot project, termasuk konsep aktivitas perdagangan yang bisa berlangsung hingga malam hari.

Di sisi lain, pemerintah juga menghadapi persoalan pedagang yang memperluas lapak hingga trotoar atau badan jalan karena mengikuti kebiasaan konsumen yang ingin berbelanja dengan cepat dari atas kendaraan.

Karena itu, revitalisasi pasar di Kabupaten Kediri diharapkan tidak sekadar membuat bangunan baru, tetapi juga mengubah pola pengelolaan dan aktivitas perdagangan agar pasar rakyat tetap menjadi pilihan masyarakat. (ikj)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini