
TULUNGAGUNG, (KUBUS.ID) – Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi penyebaran virus Hanta. Langkah ini diambil karena banyaknya area persawahan yang menjadi sarang tikus sebagai vektor penyebar penyakit. Hingga saat ini belum ditemukan kasus positif di wilayah setempat.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kabupaten Tulungagung, dr. Aris Setiawan menyampaikan bahwa meskipun belum ada laporan kasus di tingkat daerah maupun provinsi, potensi ancaman penularan tetap menjadi perhatian serius.
Penularan virus ini utamanya berasal dari kotoran atau air kencing tikus yang mengering dan bercampur dengan debu sehingga rentan terhirup oleh manusia di sekitarnya.
“Untuk kejadian sendiri di Indonesia, terlaporkan 2025 kemarin ada sekitar 17 kejadian, terus di 2026 ini ada lima kasus suspek. Namun alhamdulillah di Jawa Timur belum terlaporkan,” bebernya.
Guna menekan risiko penularan, masyarakat diimbau untuk lebih berhati-hati saat membersihkan rumah, gudang, atau tempat tertutup lainnya yang berpotensi menjadi tempat persembunyian tikus. Penggunaan alat pelindung diri sangat direkomendasikan, serta warga disarankan menggunakan lap basah untuk membersihkan permukaan guna mencegah debu kotoran tikus beterbangan ke udara.
“Katakanlah kita bersih-bersih di rumah tangga, di gudang, di tempat-tempat yang memang harus dirapikan. Misalkan ada kotoran-kotoran tikus seperti itu, untuk bisa menggunakan alat pelindung diri atau APD,” jelasnya.
Selain kewaspadaan terhadap virus Hanta, pihak dinas kesehatan juga menyoroti ancaman penyakit Leptospirosis yang penyebarannya sama-sama berasal dari vektor tikus.
Berdasarkan laporan data hingga Mei 2026, tercatat ada 11 kasus positif Leptospirosis di Tulungagung dengan rincian satu pasien meninggal dunia, di mana infeksi ini memiliki karakteristik berbeda karena lebih menyerang fungsi organ hati pasien dibandingkan ginjal seperti pada infeksi virus Hanta.
“Kalau Lepto lebih khas lagi, selain keluhannya sama demam, nyeri, pusing, ini yang lebih khasnya menyerangnya adalah di fungsi hepar atau livernya. Ada peningkatan fungsi liver atau cenderung semacam sakit kuning,” paparnya.
Untuk memaksimalkan langkah pencegahan dari hulu ke hilir, upaya komunikasi dan koordinasi lintas sektor terus diintensifkan. Dinas Kesehatan melibatkan dinas perdagangan untuk pengawasan kebersihan makanan di berbagai gudang penyimpanan, serta berkoordinasi dengan dinas pertanian guna mencari solusi penanganan hama tikus di area persawahan warga.
“Makanya kalau perlindungan terhadap makanan dalam artian pengemasannya, kemudian penyimpanannya itu juga harus diperhatikan. Jadi kalau ada makanan yang bungkusnya sobek, mungkin bisa dipikirkan untuk dilakukan konsumsinya,” terangnya.
“Kita sering komunikasi dengan instansi terkait. Kalau dari makanan dari perdagangan, kalau dengan persawahan kita dengan pertanian atau mungkin peternakan,” tandasnya. (dit)






























