KUBUS.ID – Memasuki hari kedua puluh empat Ramadan 1447 H, notifikasi perbankan menjadi suara yang lebih ditunggu daripada suara tadarus. Di grup-grup keluarga, tensi mulai naik. Di kantor, bisik-bisik soal “kapan cair” mengalahkan obrolan soal “siapa imam tarawih nanti malam”.
Selamat datang di musim Huru-hara THR. Sebuah fenomena di mana nilai spiritual Ramadan mendadak tersalip oleh nilai nominal di atas kertas. Kita sedang berada di titik krusial: Apakah kita menguasai uang, atau uang yang sedang menguasai ibadah kita?
Kemanusiaan yang Terukur oleh Nominal
THR seharusnya menjadi instrumen untuk membantu persiapan hari raya, namun ia telah bergeser menjadi “alat ukur kesuksesan”. Ada beban sosial yang tak kasat mata: Adik mengincar THR dari kakak, keponakan menghitung amplop dari paman, dan mertua (sadar atau tidak) membandingkan THR antar menantunya.
Kritik tajamnya adalah: Kita mulai membangun hierarki kasih sayang berdasarkan angka. Seseorang dianggap “baik” dan “sayang keluarga” jika amplopnya tebal. Sebaliknya, mereka yang sedang kesulitan finansial atau tidak mendapatkan THR tahun ini, mendadak merasa minder, kecil hati, dan bahkan memilih untuk tidak mudik karena merasa tidak punya “tiket” untuk dihargai. Kasih sayang keluarga telah kita gadaikan menjadi transaksi ekonomi musiman.
Konsumerisme yang “Membajak” Ibadah
Begitu angka THR masuk ke rekening, fokus kita biasanya langsung berpindah. Daftar belanjaan yang tadinya ditahan-tahan langsung meledak. Kita menghabiskan sisa malam-malam terakhir Ramadan bukan untuk bersujud, melainkan untuk berselancar di marketplace mengejar promo “Ramadan Sale”.
Energi kita habis untuk memikirkan ganti cat rumah, ganti gorden, atau membeli sepatu baru yang sebenarnya tidak kita butuhkan. THR yang seharusnya bisa digunakan untuk melunasi hutang atau menabung untuk masa depan, justru menguap dalam semalam demi euforia sesaat. Kita sedang membiarkan kapitalisme mencuri sepuluh malam terakhir kita dengan iming-iming barang yang akan usang dalam sebulan.
Kritik Pedas: Sangat ironis jika di malam-malam kita meminta ampunan dari dosa, kita justru sedang sibuk merencanakan dosa baru bernama “pemborosan” dengan uang THR kita.
Konflik di Balik Amplop
Huru-hara THR sering kali memicu konflik internal. Suami-istri berdebat soal alokasi untuk orang tua masing-masing, atau kecemburuan antar saudara karena perbedaan jumlah pemberian. Uang yang seharusnya membawa kegembiraan justru membawa perpecahan.
Kita lupa bahwa hakikat “memberi” di bulan Ramadan adalah tentang keikhlasan, bukan tentang memenuhi ekspektasi sosial. Kita lebih takut dianggap pelit oleh saudara daripada dianggap kufur nikmat oleh Tuhan.
Akhir Kata: Bijak Mengelola Berkah
Ramadan 1447 H ini, mari kita bersikap dewasa terhadap THR. Uang itu adalah titipan untuk memudahkan urusan, bukan untuk mempersulit batin. Jangan biarkan sisa harimu di bulan suci ini habis hanya untuk memikirkan uang.
Gunakan THR secukupnya untuk kebutuhan hari raya, sisanya alokasikan untuk berbagi kepada yang benar-benar membutuhkan (bukan sekadar pamer amplop), dan pastikan tabunganmu tetap aman untuk sebelas bulan ke depan.
Ingat, Lebaran hanya satu hari, tapi kehidupan setelahnya masih panjang. Jangan sampai hari raya yang “fitri” diawali dengan hati yang kotor karena konflik uang, atau masa depan yang suram karena nafsu belanja yang tak terkendali.






























