Beranda Gaya Hidup Waspada Ancaman Katarak: Bukan Penyakit Keturunan, Namun Butuh Penanganan Tepat

Waspada Ancaman Katarak: Bukan Penyakit Keturunan, Namun Butuh Penanganan Tepat

5
Suasana operasi mata katarak di ruang operasi (foto:Google Gemini)
KEDIRI, KUBUS.ID-Angka kebutaan di Indonesia terus menunjukkan tren peningkatan, dengan katarak tetap menjadi penyebab dominan. Kondisi ini menuntut perhatian serius, mengingat gangguan penglihatan bukan sekadar masalah kesehatan fisik, melainkan juga berdampak pada produktivitas dan kualitas hidup masyarakat.

Meskipun katarak identik dengan proses penuaan, ancaman ini ternyata lebih luas dari yang dibayangkan. dr. Basuki Rokhmad, SpM, Dokter Spesialis Mata dari Rumah Sakit Gambiran, menjelaskan dalam sesi on air bersama Radio ANDIKA bahwa meski kelompok usia 50 tahun ke atas adalah yang paling rentan, katarak tidak memandang bulu.

“Usia terbanyak ancaman menderita katarak adalah pada usia 50 tahun ke atas. Namun tidak menutup kemungkinan kasus ini bisa menyerang anak-anak sampai remaja,” ujar dr. Basuki Rokhmad.

Selain faktor usia, gaya hidup dan kondisi medis lainnya turut mempercepat kekeruhan lensa mata. Penggunaan obat tetes mata yang mengandung steroid tanpa pengawasan dokter serta penyakit penyerta seperti diabetes melitus menjadi pemicu signifikan.

Satu hal yang perlu ditekankan adalah katarak bukanlah penyakit genetik atau turunan. Hal ini memberikan secercah harapan bahwa katarak adalah kondisi yang murni medis dan dapat diatasi dengan intervensi yang tepat. Tantangan terbesarnya saat ini justru terletak pada ketimpangan akses medis.

“Temuan katarak yang sangat besar ini disebabkan oleh tidak keseimbangan jumlah dokter yang menangani penyakit katarak dengan sebaran penyakitnya yang bisa mencapai dua kali lipat,” ungkapnya lebih lanjut.

Kabar baiknya, dunia kedokteran mata telah mengalami lompatan teknologi yang pesat. Prosedur penanganan katarak kini jauh lebih cepat, efektif, dan minim rasa sakit. Selama tidak ada komplikasi penyakit lain pada saraf mata, penglihatan penderita dapat kembali normal setelah tindakan.

Masyarakat diimbau untuk tidak menunda pemeriksaan atau merasa takut terhadap prosedur medis mata. Ketakutan akan tindakan operasi seringkali justru memperparah tingkat kekeruhan lensa yang berujung pada kebutaan permanen.

“Peningkatan teknologi kedokteran saat ini justru mempercepat penanganan katarak, sehingga hal ini bisa efektif dalam proses pengobatan. Penderita semestinya tidak takut untuk melakukan penanganan,” pungkas dr. Basuki.(eko)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini