Beranda Kediri Raya Membedah Lifisida: Saat Tembok Ego dan Barikade Teknologi Mematikan Empati Kita

Membedah Lifisida: Saat Tembok Ego dan Barikade Teknologi Mematikan Empati Kita

1
Pengamat sosial sekaligus akademisi Universitas Islam Negeri Kediri, Dr. Taufik Alamin. (Foto. Redaksi)

KEDIRI, (KUBUS.ID) – Fenomena lifisida, tindakan menghilangkan nyawa yang terjadi dalam lingkup keluarga kini berada pada titik yang mengkhawatirkan di Indonesia. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) memberikan alarm keras bahwa kondisi ini memerlukan perhatian serius, bukan sekadar statistik kriminal biasa, melainkan cermin retaknya struktur sosial kita.

Taufik Al Amin, Dosen Sosiologi UIN Syekh Wasil Kediri, menyoroti bahwa dibalik tingginya angka lifisida, terdapat pergeseran nilai empati yang kian memudar di tengah masyarakat yang kian egosentris. Hal ini merespon kasus balita berinisial N yang ditemukan tak bernyawa di dalam rumahnya, di Lingkungan Baudendo, Kelurahan Ngronggo, Kecamatan Kota, Kota Kediri.

Menariknya, Taufik mencatat bahwa sifat egosentris masyarakat saat ini tidak lagi mengenal batas wilayah. Baik di hiruk-pikuk urban maupun ketenangan suburban, masalah utamanya serupa: intensitas komunikasi yang luntur. Ironisnya, kemajuan teknologi yang seharusnya mendekatkan, justru menjadi “barikade” baru dalam struktur sosial.

Menurut Taufik banyak yang menuding faktor ekonomi sebagai tersangka utama di balik kekerasan terhadap anak. Namun, perspektif sosiologis melihatnya lebih dalam. Ekonomi memang pemicu (trigger), tetapi bukan faktor tunggal.

“Padahal masalah sebenarnya adalah isolasi beban. Mereka yang terjerat kesulitan ekonomi seringkali tidak memiliki “jalan komunikasi” untuk berbagi beban mental,” katanya.

Ia menyebut ketika saluran bantuan sosial dan dukungan emosional dari lingkungan sekitar tertutup oleh sikap apatis, tekanan tersebut meledak menjadi tindakan fatalistik terhadap anggota keluarga yang paling rentan.

Salah satu hambatan terbesar dalam pencegahan lifisida adalah budaya “sungkan” atau anggapan bahwa kekerasan dalam keluarga orang lain adalah urusan privat. Taufik Al Amin menegaskan bahwa sikap diam ini adalah kekeliruan fatal yang bisa berujung maut.

“Masyarakat yang melihat atau mengetahui suatu tindakan kekerasan terhadap anak sebaiknya tidak tinggal diam. Tindakan diam karena merasa bukan bagian keluarga adalah salah, karena sesuatu yang dapat dicegah justru menjadi kasus yang merenggut hidup orang lain,” pungkasnya. (eko) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini