Beranda Kediri Raya Cuaca Ekstrem Picu Lonjakan Harga Cabai, Petani di Kediri Keluhkan Hasil Tidak...

Cuaca Ekstrem Picu Lonjakan Harga Cabai, Petani di Kediri Keluhkan Hasil Tidak Maksimal dan Bahkan Gagal Panen

0
Petani di wilayah Kediri mulai merasakan dampak serius imbas cuaca ekstrem yang melanda beberapa waktu terakhir. (Foto. Redaksi)

KEDIRI, (KUBUS.ID) – Cuaca ekstrem yang melanda wilayah Jawa Timur, khususnya di wilayah Kediri dalam beberapa pekan terakhir mulai berdampak serius pada sektor pertanian, khususnya komoditas cabai. Di tingkat petani, seperti yang dialami Suyono, harga berbagai jenis cabai merangkak naik secara signifikan.

Cabai merah keriting mencatatkan kenaikan dari Rp20.000 menjadi Rp32.000 per kilogram dalam dua minggu terakhir, sementara cabai rawit tetap bertahan di angka tinggi sebesar Rp55.000 per kilogram meskipun sempat mengalami sedikit penurunan.

Kenaikan harga ini dipicu oleh minimnya stok di pasaran akibat gagal panen di beberapa wilayah. Intensitas hujan yang tidak menentu menyebabkan munculnya wabah penyakit patek (antraknosa), serta pembusukan pada buah dan batang tanaman cabai.

Kondisi itu memaksa para petani mengeluarkan biaya ekstra untuk perawatan tanaman agar tetap bertahan. Namun, berkurangnya jumlah produksi tetap tidak terelakkan, sehingga pasokan ke pasar mengalami penurunan di tengah permintaan yang tetap tinggi.

Meskipun pasokan berkurang, distribusi cabai dari wilayah Kediri tidak hanya menyasar pasar lokal, tetapi juga menjangkau wilayah sekitarnya seperti Trenggalek, Ponorogo, Blitar, dan Tulungagung. Bahkan, permintaan tetap mengalir hingga ke luar provinsi dan luar pulau.

Jangkauan distribusi yang luas ini, berpadu dengan berkurangnya jumlah supply, diprediksi akan membuat harga cabai terus meroket melampaui rekor harga sebelumnya dalam waktu dekat. Suyono mengungkapkan bahwa situasi saat ini merupakan salah satu yang tersulit bagi para petani.

“Biaya perawatan naik drastis karena tanaman butuh perhatian ekstra di cuaca seperti ini. Harga saat ini sudah yang paling tinggi, dan ada potensi naik lagi karena barangnya memang susah dicari di sawah,” ujarnya.

Kondisi tersebut menjadi dilema bagi petani, di satu sisi harga jual tinggi, namun di sisi lain biaya operasional dan risiko gagal panen juga meningkat tajam. Harapan besar digantungkan pada kondisi cuaca agar segera membaik dan kembali stabil. Jika cuaca ekstrem terus berlanjut, dikhawatirkan daya beli masyarakat akan semakin merosot akibat mahalnya harga kebutuhan pokok.

Petani berharap stabilitas harga dapat kembali normal sehingga rantai distribusi dari sawah hingga ke tangan konsumen dapat berjalan lancar tanpa dibayangi ancaman kerusakan tanaman yang masif.

“Harapannya cuaca ekstrem ini segera selesai agar harga kembali stabil dan daya beli masyarakat meningkat kembali,” Pungkas Suyono. (sof)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini