KUBUS.ID – Masuk ke hari kesepuluh Ramadan 1447 H, cobalah perhatikan linimasa media sosial Anda. Selain menu takjil, ada satu hal lagi yang mulai mendominasi: iklan baju koko desain eksklusif, gamis syar’i edisi terbatas, hingga kerudung bermotif kaligrafi yang harganya bisa untuk makan satu panti asuhan.
Selamat datang di musim Fashion Hijrah Bulanan. Sebuah masa di mana kita sibuk mematut diri di depan cermin, memastikan penampilan kita tampak “sangat Islami”, namun sering kali lupa memperbaiki apa yang ada di balik kain-kain mahal tersebut.
Spiritual yang Terbalut Brand
Ada pergeseran makna yang halus namun berbahaya. Kita mulai mengukur kualitas “hijrah” seseorang dari seberapa baru dan seberapa bermerek pakaian religinya. Toko-toko baju Muslim mendadak penuh sesak. Orang-orang rela antre berjam-jam demi sebuah brand yang dipopulerkan oleh artis atau influencer hijrah.
Pertanyaannya: Apakah kita sedang mendekatkan diri kepada Tuhan, atau sedang mengikuti tren pasar? Kita membeli baju baru seolah-olah tanpa kain itu, ibadah kita tidak akan sampai ke langit. Kita sibuk memilih warna kain yang serasi untuk keluarga (untuk kepentingan foto lebaran), sementara hati kita masih berwarna keruh karena dengki dan sombong yang belum juga dicuci selama sepuluh hari pertama puasa.
Paradoks Konsumsi di Bulan Prihatin
Ramadan adalah bulan untuk menahan diri, termasuk menahan syahwat belanja. Namun, industri fashion justru menjadikan Ramadan sebagai puncak panen raya mereka. Kita diajak untuk “tampil baru” di hari yang fitri, tapi kita menerjemahkannya secara mentah sebagai “tampil dengan barang baru”.
Kritik tajamnya adalah: Mengapa untuk merayakan kemenangan melawan hawa nafsu, kita justru harus memanjakan nafsu belanja kita? Kita membeli baju berlebihan yang mungkin hanya akan dipakai dua atau tiga kali, menambah tumpukan limbah tekstil, sementara di sudut jalan yang sama, masih banyak orang yang menggunakan baju yang sama untuk bekerja, salat, dan tidur.
Jubah Takwa vs Jubah Gengsi
Kita sering melihat orang-orang yang penampilannya sangat religius—jubah putih bersih, sorban yang rapi—namun tutur katanya di media sosial penuh dengan hujatan. Pakaian telah menjadi “bungkus” yang menipu. Kita lebih takut tidak memakai baju koko saat Tarawih daripada tidak membawa hati yang khusyuk saat sujud.
Kritik Pedas: Jika bajumu makin religius tapi mulutmu tetap berbisa, maka kamu tidak sedang berhijrah; kamu hanya sedang berganti kostum.
Ingatlah bahwa Tuhan tidak melihat merek kerudungmu atau potongan jubahmu. Tuhan melihat apa yang tersembunyi di balik lipatan lemak dan tulang di dada kiri kita. Membeli baju baru untuk lebaran tentu boleh, namun menjadikannya obsesi utama di bulan Ramadan adalah sebuah kegagalan fokus yang fatal.
Akhir Kata: Membersihkan “Noda” di Dalam
Ramadan 1447 H ini, mari kita ubah fokus. Sebelum Anda menghabiskan uang jutaan rupiah untuk fashion lebaran, pastikan zakat dan sedekah Anda sudah tuntas. Sebelum Anda mencuci baju-baju mahal itu agar tampak cemerlang, pastikan hati Anda sudah dicuci dengan air mata taubat.
Jangan sampai kita menjadi hamba yang hanya “saleh secara visual”. Apa gunanya pakaian suci jika dipakai oleh jiwa yang kotor? Apa gunanya hijab yang sempurna jika digunakan untuk menutupi kepala yang penuh dengan rencana jahat dan prasangka?
Tampil rapi itu sunnah, tapi tampil bersahaja dan peduli itu jauh lebih utama. Karena pada hari kiamat nanti, kita semua akan dibangkitkan tanpa membawa brand pakaian apapun, melainkan hanya membawa selembar kain kafan dan setumpuk amal yang mungkin masih compang-camping.






























