Beranda Kediri Raya Imbas Perbaikan Jembatan Kaliombo I, Tambangan Penyeberangan Manisrenggo-Bulu Jadi Rute Alternatif Favorit

Imbas Perbaikan Jembatan Kaliombo I, Tambangan Penyeberangan Manisrenggo-Bulu Jadi Rute Alternatif Favorit

373

KEDIRI, (KUBUS.ID) – Tambangan penyeberangan tradisional yang menghubungkan antara Kelurahan Manisrenggo, Kota Kediri dengan Desa Bulu, Kecamatan Semen, Kabupaten Kediri kini menjadi primadona baru bagi masyarakat. Keberadaan moda transportasi air yang telah beroperasi selama lebih dari empat tahun ini mendadak mengalami lonjakan pengguna yang sangat drastis setiap harinya.

Meningkatnya popularitas tambangan ini merupakan imbas langsung dari ditutupnya Jalan Urip Sumoharjo. Penutupan akses jalan utama tersebut dilakukan oleh pemerintah setempat guna mendukung kelancaran proyek perbaikan Jembatan Kaliombo I. Akibatnya, masyarakat harus mencari rute alternatif agar mobilitas harian mereka tidak terganggu.

Bagi para petugas yang mengoperasikan perahu tambangan, situasi ini membawa keuntungan yang tidak terduga. Agung salah satu petugas mengatakan, penutupan jalur darat tersebut mengubah rutinitas sepi mereka menjadi ladang rezeki yang melimpah karena volume kendaraan yang menyeberang meningkat tajam dari hari biasanya.

“Dengan adanya penutupan Jalan Urip Sumoharjo menjadi berkah tersendiri, karena intensitas masyarakat yang menggunakan jasanya meningkat drastis daripada hari-hari biasanya,” ujar Agung.

Peningkatan jumlah penumpang ini tentu saja berdampak langsung pada pendapatan harian yang dikantongi oleh para pekerja tambangan. Agung membeberkan bahwa omset mereka mengalami kenaikan yang cukup signifikan, meskipun jumlahnya masih fluktuatif setiap harinya.

“Kalau hari biasa omset yang didapatkan berkisar lima ratus ribu rupiah. Dengan adanya penutupan ini bisa delapan ratus sampai satu juta rupiah per harinya, tetapi tidak stabil di angka tersebut,” tambah Agung.

Namun, operasional tambangan ini bukan tanpa hambatan. Samsul, petugas tambangan lainnya, menjelaskan bahwa tantangan terbesar mereka muncul ketika cuaca ekstrem melanda kawasan Sungai Brantas, terutama saat memasuki musim penghujan. Keselamatan penumpang tetap menjadi prioritas utama mereka di atas mengejar keuntungan materi.

“Yang menjadi tantangan adalah pada saat musim hujan, debit air sungai Brantas pasti naik dan kondisi angin yang kencang dan tidak menentu. Apabila angin tidak kondusif, terpaksa harus tutup sementara,” jelas Samsul.

Di sisi lain, masyarakat sebagai pengguna jasa merasa sangat diuntungkan dengan adanya rute alternatif ini. Kartoyo, salah satu warga yang rutin melintasi Sungai Brantas menggunakan perahu tersebut, mengaku tidak bisa berpaling dari jasa tambangan ini karena efisiensi waktu yang ditawarkan.

“Saya selalu menggunakan jasa penyeberangan ini dan sangat terbantu dengan adanya tambangan ini. Selain bisa memangkas waktu tempuh perjalanan, dengan tarif dua ribu rupiah cukup murah dan terjangkau,” kata Kartoyo.

Senada dengan Kartoyo, pengguna jasa lainnya bernama Fuad juga merasakan manfaat ekonomi yang besar dari keberadaan tambangan Manisrenggo-Bulu ini. Di tengah situasi ekonomi yang menantang, penyeberangan sungai ini menjadi solusi cerdas bagi dompetnya.

“Saya juga merasa sangat terbantu karena bisa memangkas pengeluaran BBM di saat harganya yang mengalami kenaikan tajam akhir-akhir ini,” pungkas Fuad. (sof/stm)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini