
KEDIRI, (KUBUS.ID) – Penyebaran Human Immunodeficiency Virus (HIV) di Kota Kediri mengalami kenaikan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Kediri mencatat, setidaknya ditemukan 65 kasus baru dalam tiga bulan pertama di tahun 2026 ini. Angka tersebut menunjukkan bahwa ancaman penyebaran virus ini masih menjadi tantangan serius bagi pemerintah daerah setempat.
Beruntung, mayoritas dari puluhan kasus baru yang terdeteksi tersebut masih berada pada tahap awal penyakit. Artinya, infeksi virus di dalam tubuh pasien belum berkembang menjadi acquired immunodeficiency syndrome (AIDS).
Keberhasilan deteksi dini ini tidak lepas dari upaya Dinkes yang gencar melakukan penjemputan bola ke lapangan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Kediri, Hendik Suprianto, M.Kes, MM., menjelaskan bahwa sebagian besar pasien ditemukan dalam kondisi yang sehat atau belum menunjukkan gejala sakit yang parah. Pemeriksaan acak di lokasi rawan menjadi kunci utama ditemukannya kasus-kasus baru tersebut.
“Temuan paling banyak dalam kondisi belum sakit. Terutama dari hasil mobile VCT atau pemeriksaan HIV di tempat-tempat berisiko,” ungkap Hendik.
Untuk memaksimalkan penemuan kasus, Dinkes rutin melaksanakan agenda mobile VCT (Mobile Voluntary Counseling and Testing) bersama komunitas penanggulangan HIV/AIDS satu sampai dua kali dalam seminggu. Beberapa lokasi yang dinilai memiliki risiko tinggi dan kerap menjadi sasaran utama petugas di antaranya adalah kafe hingga rumah kos-kosan.
Secara rinci, dari total 65 kasus baru yang ditemukan per Maret 2026, sebanyak 62 kasus berada pada tahap HIV, sedangkan 3 kasus sisanya telah memasuki stadium akhir atau AIDS. Jika dilihat dari domisili, sebanyak 19 orang merupakan warga Kota Kediri, 28 orang warga Kabupaten Kediri, dan sisanya berasal dari daerah lain di luar Kediri yang kebetulan memeriksakan diri di sana.
Berdasarkan data demografi, kelompok usia produktif menjadi yang paling mendominasi temuan kasus baru ini akibat pola hidup dan interaksi sosial. Menurut Dinkes tingginya angka penularan pada kelompok ini berkorelasi langsung dengan aktivitas harian dan tingkat pergerakan mereka di luar rumah.
“Paling banyak temuan kasus dari populasi usia muda. Antara 20 sampai 30 tahun karena terkait dengan mobilitas,” sambung Hendik.
Penyebaran virus itu sendiri ditularkan melalui kontak cairan tubuh tertentu, seperti darah, cairan kelamin, dan air susu ibu (ASI). Ke tiga aspek ini sangat identik dengan dinamika mobilitas masyarakat. Aktivitas seksual yang tidak aman menjadi jalur utama penularan yang paling sering ditemukan di lapangan.
“Termasuk dari rentang usia 40-an tahun juga masih banyak ditemui. Karena di usia 20 sampai 40 tahun itu kan masa-masa orang mobilitasnya tinggi, sering keluar malam. Jadi sesuai jika disandingkan dengan mobilitas harian,” tandasnya.
Dinas kesehatan Kota Kediri berkomitmen penuh untuk terus menggencarkan upaya mitigasi melalui upaya promotif, dengan mensosialisasikan di sekolah-sekolah dan masyarakat melalui kader dan Puskesmas, kemudian Preventif, salah satunya melalui mobile VCT (Mobile Voluntary Counseling and Testing), kuratif(pengobatan) dan terakhir rehabilitasi. Dengan upaya tersebut harapannya kasus HIV/AIDS di Kota Kediri bisa terdeteksi sejak dini dan tertangani dengan maksimal dengan dibarengi penurunan angka kasus yang signifikan. (sof)






























