JAKARTA, (KUBUS.ID) – Dewan Energi Nasional (DEN) tengah melakukan pengkajian terhadap rencana pembatasan penyaluran BBM bersubsidi seperti Pertalite dan Biosolar yang didasarkan pada kapasitas mesin (CC) serta jenis kendaraan guna mengoptimalkan distribusi energi nasional pada pekan ini di Jakarta.
Anggota DEN Satya Widya Yudha menyatakan bahwa langkah pengendalian ini diprediksi mampu menekan penggunaan volume bahan bakar dalam jumlah yang signifikan. Proyeksi tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga stabilitas fiskal, sebagaimana dilansir dari Suara.
“Kalau (pembatasannya) berdasarkan CC dan jenis kendaraan itu, potensi hematnya berdasarkan hitungan kami itu 10–15 persen daripada volume,” ujar Satya Widya Yudha, Anggota DEN.
Penetapan strategi ini merupakan bagian dari kerangka kerja yang disebut trilogi strategi pengendalian subsidi dan efisiensi energi. Selain pembatasan BBM, pemerintah juga fokus pada transformasi penyaluran LPG 3 kg agar tepat sasaran bagi masyarakat miskin.
“LPG 3 kg itu transformasi ke subsidi yang berbasis orang dengan data dari P3KE dan DTKS,” ucap Satya Widya Yudha, Anggota DEN.
Dalam kaitan efisiensi konsumsi, DEN menekankan pentingnya percepatan elektrifikasi pada sektor transportasi darat. Satya menilai langkah tersebut secara langsung akan menurunkan angka ketergantungan publik terhadap konsumsi bahan bakar fosil secara nasional.
“Strategi ketiga adalah optimalisasi dari sisi pasokan,” kata Satya Widya Yudha, Anggota DEN.
Pemerintah juga berencana meningkatkan pemanfaatan minyak kelapa sawit melalui program mandatori B50 yang dijadwalkan mulai berlaku pada 1 Juli 2026. Program ini bertujuan untuk menghilangkan aktivitas impor solar secara total melalui penguatan industri biodiesel domestik.
“Kita kurangi impor solar. Jadi, Bapak Menteri ESDM (Bahlil Lahadalia) beberapa kali sudah mengatakan kita akan nol (impor) untuk solar kalau kita tingkatkan B50,” kata Satya Widya Yudha, Anggota DEN. (JAWAPOS/Far)































