KEDIRI, KUBUS.ID – Media yang ingin tetap hidup tidak bisa hanya mengandalkan cara lama. Di tengah perubahan perilaku masyarakat dan gempuran teknologi digital, inovasi dan kemampuan beradaptasi menjadi kunci untuk tetap relevan.
Pesan itu disampaikan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat sekaligus Koordinator Bidang Pengawasan Isi Siaran KPI Pusat, Dr. Tulus Santoso, menanggapi kegiatan “Kami Juga Upacara” yang digelar ANDIKA Media di halaman Andika Media Center, Kediri, Senin (17/8).
Tulus mengapresiasi langkah ANDIKA Media yang terus menghadirkan inovasi berbasis kebutuhan masyarakat. Salah satunya melalui “Kami Juga Upacara”, yang tahun ini melibatkan 500 tukang becak dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Menurut dia, kegiatan tersebut menunjukkan bahwa media tidak sekadar memproduksi dan menyebarkan informasi. Media juga harus peka membaca persoalan di sekitarnya, lalu menghadirkan gagasan dan solusi yang memberi manfaat nyata bagi publik.
Pada peringatan HUT ke-81 RI, ANDIKA Media memilih merayakan kemerdekaan dengan cara yang lebih membumi. Melalui kegiatan yang melibatkan 500 tukang becak, ANDIKA ingin menegaskan bahwa kemerdekaan adalah milik seluruh rakyat Indonesia, tanpa memandang profesi maupun status sosial.

“Di tengah perubahan perilaku masyarakat dan perkembangan teknologi, ANDIKA tetap menunjukkan semangat untuk melibatkan masyarakat. Ini penting karena media harus terus mencari cara agar tetap relevan,” ujarnya dalam wawancara on air di Radio ANDIKA, Senin (17/8).
Bagi Tulus, tantangan media saat ini tidak bisa dijawab dengan bertahan pada satu platform. Perubahan teknologi menuntut radio dan media penyiaran untuk terus beradaptasi, berinovasi, serta memanfaatkan berbagai kanal digital.
Namun, transformasi itu tidak boleh menghilangkan fungsi utama media: menghadirkan informasi yang benar dan bermanfaat bagi publik.
Di tengah banjir konten digital, Tulus menegaskan radio justru memiliki posisi penting sebagai penjernih informasi. Media harus menjadi rujukan publik dengan menyampaikan informasi yang telah terverifikasi sekaligus menjadi benteng melawan disinformasi dan hoaks.
Karena itu, ia mendorong ANDIKA Media untuk terus mengembangkan diri dan menjawab tantangan zaman dengan inovasi yang berpijak pada kebutuhan masyarakat.
“Radio tidak akan mati. Yang berubah adalah cara, teknologi, dan medium yang digunakan untuk menjangkau masyarakat,” tegasnya.
Kemampuan membaca perubahan, beradaptasi dengan teknologi, dan menghadirkan solusi bagi persoalan publik, menurut Tulus, menjadi modal penting bagi media untuk bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat.
Bagi ANDIKA Media, inovasi bukan sekadar mengikuti tren. Inovasi menjadi cara untuk tetap dekat dengan masyarakat serta memastikan media tetap memiliki alasan untuk didengar, diakses, dan dipercaya.(adr)






























