Beranda Opini Kelelahan yang Salah Alamat: Tumbang di Dapur, Terlelap di Atas Sajadah

Kelelahan yang Salah Alamat: Tumbang di Dapur, Terlelap di Atas Sajadah

708

KUBUS.ID – H-2 Lebaran 1447 H. Jika Anda mengintip ke dalam rumah-rumah hari ini, Anda akan menemukan medan perang yang sesungguhnya. Bukan perang melawan hawa nafsu, melainkan perang melawan tumpukan cucian piring, ulekan bumbu rendang yang tak habis-habis, dan antrean panjang di pasar tradisional.

Ada sebuah ironi besar: Kita menghabiskan 27 hari untuk berlatih sabar dan mendekatkan diri pada Tuhan, namun di dua hari terakhir, kita justru “tumbang” karena urusan perut dan perabot.

Marathon di Dapur, Pingsan di Masjid

Banyak dari kita yang mengalihkan seluruh fokus ibadah di akhir Ramadan menjadi aktivitas fisik yang ekstrem. Ibu-ibu menghabiskan waktu berjam-jam berdiri di depan kompor demi memastikan stoples kue penuh dan ketupat matang sempurna. Bapak-bapak sibuk membersihkan kendaraan atau mengangkut barang belanjaan.

Akibatnya? Saat malam-malam terakhir yang seharusnya menjadi ajang iktikaf atau qiyamul lail tiba, kita sudah dalam kondisi “lowbatt”. Tubuh kita remuk, punggung kita sakit, dan satu-satunya hal yang kita inginkan adalah tidur. Kita melewatkan kesempatan emas untuk berdialog dengan Sang Pencipta hanya karena kita ingin memastikan hidangan kita dipuji oleh tamu yang datang setahun sekali.

Ritualitas yang Menyiksa Diri

Kritik tajamnya adalah: Kita sering kali menjadi budak tradisi, bukan hamba Tuhan. Kita merasa “berdosa” jika meja makan kosong dari opor, tapi kita merasa biasa saja jika melewatkan salat sunnah di penghujung Ramadan.

Kita memaksakan standar Lebaran yang melelahkan. Harus ada lima jenis kue kering, harus ada gorden baru, harus ada masakan yang rumit. Standar sosial ini mencekik kita. Kita sampai di hari Idulfitri dengan mata merah karena kurang tidur, badan lemas, dan suasana hati yang mudah marah (mudah tersinggung) karena stres persiapan. Di mana letak kemenangan jika kita menjemputnya dengan rasa lelah yang penuh keluhan?

Kritik Pedas: Sangat disayangkan jika “kemenangan” yang kita raih setelah sebulan berpuasa hanyalah kemenangan atas tuntasnya urusan dapur, sementara urusan hati masih berantakan karena jarang disentuh di hari-hari terakhir.

Kehilangan Khusyuk di Hari Id

Puncaknya adalah saat salat Idulfitri. Karena terlalu lelah menyiapkan segalanya hingga dini hari, banyak dari kita yang justru mengantuk saat khotbah Lebaran. Kita sibuk memikirkan “apakah rendangnya sudah dipanaskan?” atau “apakah penataan ruang tamu sudah rapi?” bahkan saat kita sedang bersujud.

Fokus kita terdistraksi sepenuhnya ke duniawi. Kita merayakan kemenangan dengan ritual fisik, namun kehilangan esensi kembali ke fitrah karena pikiran kita masih terpenjara oleh urusan domestik.

Akhir Kata: Sederhanakan Persiapan, Maksimalkan Perasaan

Ramadan 1447 H ini, mari kita turunkan ekspektasi terhadap “pesta” Lebaran. Tidak ada hukumnya Lebaran harus mewah. Tidak ada larangan untuk hanya menyajikan makanan sederhana agar Anda punya energi lebih untuk beribadah di malam terakhir.

Lebih baik menyambut tamu dengan wajah segar dan hati yang lapang, daripada menyambut mereka dengan hidangan mewah namun mata yang sembap karena kelelahan dan emosi yang labil.

Ingat, Ramadan adalah tentang pengosongan perut untuk pengisian jiwa. Jangan sampai di hari-hari terakhir, kita justru sibuk mengisi perut (lewat persiapan makanan) hingga mengosongkan jiwa. Sederhanakan dapurmu, agar hatimu punya ruang untuk bersyukur.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini