Beranda Opini Obral Gelar Mendadak: Ketika Kolom Komentar Jadi “Majelis Fatwa” Dadakan

Obral Gelar Mendadak: Ketika Kolom Komentar Jadi “Majelis Fatwa” Dadakan

40

KUBUS.ID – Memasuki hari kelima Ramadan 1447 H, ada sebuah fenomena “ajaib” yang terjadi di jagat digital kita. Jika di bulan-bulan biasa kolom komentar media sosial penuh dengan debat politik atau gosip artis, kini ia berubah menjadi mimbar fatwa.

Mendadak, jutaan orang mendapatkan gelar “Syekh”, “Mufasir”, dan “Ahli Fikih” hanya dalam semalam. Modalnya sederhana: kuota internet, mesin pencari Google, dan keberanian luar biasa untuk mengetik kata “Bid’ah”, “Sesat”, atau “Haram” kepada siapa saja yang tidak sejalan dengan pemahaman mereka. Selamat datang di musim Obral Gelar Mendadak.

“Sertifikasi” Takwa Lewat Jempol

Ramadan seharusnya menjadi bulan di mana kita menahan lisan. Namun, bagi para mufasir dadakan ini, menahan lisan tidak termasuk menahan jempol. Mereka merasa memiliki mandat dari langit untuk mengoreksi setiap detil ibadah orang lain.

Dari masalah teknis seperti jarak saf salat, hingga masalah privat seperti alasan seseorang tidak berpuasa, semuanya luput dalam “audit” para ahli agama baru ini. Ironinya, mereka yang begitu garang mengutip dalil (hasil copy-paste) sering kali lupa pada dalil yang paling mendasar: tentang larangan menghina, merendahkan, dan berprasangka buruk kepada sesama.

Google sebagai “Sanad” Keilmuan

Belajar agama itu butuh waktu tahunan, butuh guru, butuh sanad (silsilah keilmuan) yang jelas. Namun, di era Ramadan digital ini, semua itu diringkas menjadi algoritma.

Banyak orang yang bacaan Al-Qurannya masih terbata-bata, atau bahkan tidak tahu syarat sah wudhu secara lengkap, tiba-tiba menjadi sangat vokal mendebat perbedaan pendapat imam besar yang sudah dibahas ratusan tahun lalu. Mereka merasa satu artikel pendek atau satu video TikTok berdurasi 60 detik sudah cukup untuk menjadikan mereka “Hakim Iman”.

Kritik Pedas: Kita sedang menghadapi generasi yang lebih khatam kolom komentar daripada khatam Mushaf. Generasi yang lebih hafal kesalahan orang lain daripada hafal bacaan salatnya sendiri.

Polisi Moral yang Lupa Diri

Fenomena ini menciptakan atmosfer “Polisi Moral”. Jika ada publik figur yang memposting foto tidak berhijab atau warung yang membuka tirainya sedikit, mereka akan menyerbu dengan narasi “Hormati yang puasa!”.

Pertanyaannya: Sejak kapan puasa kita menjadi begitu rapuh sampai-sampai harus dilindungi oleh paksaan terhadap orang lain? Esensi puasa adalah ujian. Jika semua godaan dihilangkan dan semua orang dipaksa tampak saleh, lantas apa lagi yang sedang diuji dari diri kita? Kepanikan mereka terhadap “dosa orang lain” sebenarnya menunjukkan satu hal: ketidakpercayaan diri atas kualitas puasa mereka sendiri.

Akhir Kata: Puasalah dari Menghakimi

Ramadan 1447 H ini, mari kita tambahkan satu menu dalam daftar “yang membatalkan puasa”: yaitu membatalkan pahala puasa dengan merasa diri paling benar.

Menjadi saleh itu bagus, tapi merasa paling saleh adalah sebuah penyakit. Sebelum Anda mengetik fatwa di kolom komentar orang lain, tanyakan pada diri sendiri: “Apakah ilmu saya sudah cukup, atau saya hanya sedang ingin terlihat pintar di hadapan manusia?”

Belajarlah lagi untuk menjadi murid, bukan selalu ingin menjadi guru. Karena di hadapan Tuhan, gelar “Ahli Ibadah” tidak diberikan kepada mereka yang paling berisik di media sosial, tapi kepada mereka yang paling sibuk memperbaiki diri di dalam kesunyian.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini