Beranda Opini Pasca-Ramadan: Kembali Jadi “Iblis” atau Tetap Menjadi Hamba?

Pasca-Ramadan: Kembali Jadi “Iblis” atau Tetap Menjadi Hamba?

1

KUBUS.ID – Hari ketiga puluh Ramadan 1447 H. Matahari terbenam hari ini menandai berakhirnya sebuah madrasah selama tiga puluh hari. Sebentar lagi, gema takbir akan menggetarkan langit, menandakan kemenangan telah tiba. Namun, sebuah pertanyaan besar menggantung di atas kepala kita: Siapa yang sebenarnya menang?

Apakah kita yang berhasil menahan lapar, ataukah nafsu kita yang sebenarnya hanya “sedang cuti” dan siap meledak kembali besok pagi?

Fenomena “Iblis yang Lepas dari Belenggu”

Ada sebuah keyakinan bahwa selama Ramadan, setan dibelenggu. Jika itu benar, maka besok adalah hari di mana “belenggu” itu dibuka.

Ironisnya, sering kali bukan setan yang menggoda kita, melainkan diri kita sendiri yang sudah tidak sabar untuk kembali ke kebiasaan buruk.
Lihatlah polanya: Besok, lidah yang sebulan ini dijaga dengan zikir, mungkin akan kembali tajam menghujat.

Perut yang sebulan ini dilatih untuk moderasi, akan dipaksa bekerja lembur dalam pesta pora makanan yang berlebihan. Mata yang sebulan ini menunduk, mungkin akan kembali liar mencari aib. Jika perilaku kita berubah drastis kembali ke titik nol tepat saat Syawal tiba, maka Ramadan kita hanyalah sebuah Sandiwara Musiman.

Ramadannya “Libur”, Maksiatnya “Lembur”

Kritik tajam bagi kita adalah: Jangan sampai kita menjadikan Idulfitri sebagai hari kemerdekaan untuk berbuat dosa kembali. Banyak yang merasa bahwa karena sudah “cuci gudang” pahala di Lailatul Qadar, maka mereka punya saldo dosa yang cukup untuk dilakukan di bulan-bulan berikutnya. Ini adalah logika yang sesat.

Ramadan bukan tempat untuk “menabung pahala” agar bisa digunakan untuk “berbelanja maksiat” di sisa tahun. Ramadan adalah latihan untuk membentuk karakter permanen. Jika karakter itu hilang seiring hilangnya hilal, maka kita gagal lulus dari madrasah ini.

Kritik Pedas: Jika Anda merasa lega karena Ramadan berakhir agar bisa kembali melakukan kebiasaan buruk, maka sebenarnya Anda tidak sedang beribadah, Anda sedang menjalani masa tahanan.

Masjid yang Kembali “Yatim Piatu”

Besok lusa, kita akan melihat pemandangan yang menyedihkan: Saf-saf yang tadinya penuh hingga ke teras masjid, mendadak melompong. Mushaf Al-Quran yang tadinya lusuh karena sering dibuka, akan kembali berselimut debu di rak paling atas.

Kita sering kali menjadi “Hamba Ramadan”, bukan “Hamba Allah”. Kita hanya menyembah-Nya saat bulan suci, lalu seolah “memecat” Tuhan dari kehidupan kita di bulan-bulan lainnya. Padahal, Tuhan di bulan Ramadan adalah Tuhan yang sama di bulan Syawal, Zulkaidah, dan seterusnya. Kesalehan yang hanya berumur 30 hari adalah kesalehan kosmetik yang tidak akan mengubah nasib sebuah bangsa maupun diri sendiri.

Akhir Kata: Mempertahankan Cahaya

Ramadan 1447 H ini akan segera menjadi kenangan. Namun, nilai-nilainya tidak boleh ikut menjadi sejarah. Kemenangan sejati bukan terletak pada baju baru yang Anda kenakan besok pagi, melainkan pada kebiasaan baru yang Anda bawa hingga Ramadan tahun depan.

Jika Anda menjadi lebih sabar, lebih dermawan, lebih jujur, dan lebih peduli pada sesama setelah bulan ini berlalu, maka selamat: Anda adalah pemenang yang sesungguhnya.

Namun jika besok Anda kembali menjadi pribadi yang sombong, pelit, dan pemarah, maka Anda hanya mendapatkan lapar, haus, dan lelah yang sia-sia.
Selamat merayakan Idulfitri 1447 H. Mari kita buktikan bahwa kita adalah manusia-manusia baru, bukan “iblis” lama yang baru saja bebas dari kurungan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini