KUBUS.ID – Tim SAR gabungan terus mengupayakan pencarian intensif terhadap seorang warga yang dilaporkan tenggelam di aliran Sungai Brantas, tepatnya di bawah jembatan Jong Biru bagian barat. Memasuki hari kedua pencarian pada Rabu (06/05/26), petugas memutuskan untuk membagi kekuatan guna memaksimalkan penyisiran di dua medan berbeda, yakni jalur air dan jalur darat.
Insiden ini bermula saat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Kediri menerima laporan kehilangan pada Selasa siang sekitar pukul 11.00 WIB. Segera setelah laporan diterima, tim langsung bergerak melakukan penyusuran di sekitar lokasi kejadian perkara (LKP). Namun, hingga petang hari pertama, upaya tersebut belum membuahkan hasil atau petunjuk mengenai keberadaan korban.
Guna memperkuat operasi penyelamatan, BPBD Kota Kediri melakukan koordinasi intensif dengan Basarnas Pos SAR Trenggalek serta BPBD Kabupaten Kediri. Langkah ini diambil untuk melakukan evaluasi bersama terhadap kendala di lapangan sekaligus menyusun strategi pencarian yang lebih komprehensif pada hari kedua ini.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Kediri, Joko Arianto, menegaskan bahwa penambahan personel dari Basarnas sangat krusial dalam mempercepat proses evakuasi.
“Hari ini ada tambahan personel dari Basarnas Pos SAR Trenggalek dan terbagi menjadi dua tim yang ditugaskan melakukan penyusuran sungai,” tegas Joko.
Secara teknis, tim pertama diterjunkan untuk menyisir jalur air menggunakan perahu karet di sepanjang aliran sungai. Sementara itu, tim kedua menyisir jalur darat mulai dari Dam Selis hingga Bendungan Gerak Waru Turi. Area pencarian pada hari kedua ini diperkirakan mencapai radius sepanjang 3,5 kilometer dari titik awal korban dilaporkan hilang.
Berdasarkan keterangan saksi mata di lokasi, musibah ini terjadi saat korban dan rekannya sedang membersihkan bantaran sungai sebagai persiapan mencari ikan atau tradisi pladu. Korban diduga mengalami kelelahan saat proses pembersihan berlangsung hingga akhirnya terjatuh. Arus sungai yang sangat kuat membuat korban terseret seketika, terlebih korban tidak mengenakan alat bantu keselamatan.
Kondisi korban yang tanpa pelampung berbanding terbalik dengan saksi yang saat itu menggunakan pelampung tradisional dari bambu.
Joko Arianto menyatakan bahwa pihaknya akan berupaya maksimal agar korban dapat segera ditemukan di tengah tantangan arus sungai yang deras.
“Tim akan berusaha semaksimal mungkin dalam pencarian hari kedua ini, supaya korban bisa lekas ditemukan,” pungkasnya.(sof/stm)
































