Beranda Opini Polisi Moral Sosmed: Menghujat Orang yang Tak Puasa, Melupakan Uzur yang Nyata

Polisi Moral Sosmed: Menghujat Orang yang Tak Puasa, Melupakan Uzur yang Nyata

6198

KUBUS.ID – Memasuki paruh kedua Ramadan 1447 H, “panasnya” cuaca sering kali kalah oleh panasnya kolom komentar. Anda pasti pernah melihatnya: seorang publik figur memposting foto sedang minum di siang hari, atau seorang teman mengunggah foto makanan, lalu dalam hitungan detik, pasukan Polisi Moral Sosmed datang menyerbu.

“Enggak puasa ya?”, “Hargai yang puasa dong!”, hingga sumpah serapah yang jauh dari nilai-nilai agama meluncur deras. Selamat datang di hari ke-16, hari di mana kita membedah penyakit hati

Merasa Paling Tahu Isi Lambung Orang

Fenomena ini sungguh ajaib. Kita merasa memiliki kemampuan X-ray untuk mengetahui mengapa seseorang tidak berpuasa. Padahal, Islam adalah agama yang penuh dengan kasih sayang dan keringanan (rukhsah).

Pernahkah terlintas di pikiran para “polisi” ini bahwa orang yang mereka hujat mungkin sedang sakit? Atau seorang ibu yang sedang menyusui? Atau perempuan yang sedang datang bulan? Atau musafir yang kelelahan? Kita begitu cepat mengetikkan kalimat penghakiman, seolah-olah kita adalah asisten malaikat pencatat amal yang sedang melakukan inspeksi mendadak.

Puasa yang “Minta Dihormati”

Kritik paling tajam untuk kita semua: Sejak kapan ibadah puasa kita menjadi begitu lemah sehingga merasa terganggu hanya karena melihat orang lain makan?

Esensi puasa adalah ujian. Jika semua orang di dunia ini dipaksa berhenti makan hanya agar Anda tidak tergoda, lantas di mana letak nilai perjuangan Anda? Menuntut orang lain untuk menghormati kita yang sedang berpuasa adalah bentuk kesombongan yang halus. Puasa yang sejati tidak membutuhkan proteksi dari lingkungan; ia tumbuh dari kekuatan iman di dalam dada.

Kritik Pedas: Jika melihat orang makan membuatmu emosi dan ingin memaki, maka yang sedang lapar itu bukan perutmu, tapi egomu yang ingin diakui sebagai “orang paling bertaqwa”.

Kontradiksi: Amar Ma’ruf dengan Cara Mungkar

Para polisi moral ini sering berdalih sedang melakukan “Amar Ma’ruf Nahi Mungkar” (mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran). Namun, mereka melakukannya dengan cara yang justru bertentangan dengan ajaran Islam: menghina, merendahkan, dan mempermalukan orang di depan umum.

Dakwah itu merangkul, bukan memukul. Dakwah itu mengajak, bukan mengejek. Menghujat orang yang tidak puasa tidak akan membuat mereka rindu pada masjid, malah mungkin membuat mereka benci pada agama karena melihat perilaku pemeluknya yang kasar. Anda mungkin merasa sedang membela Tuhan, padahal Anda hanya sedang memuaskan nafsu merasa “lebih suci” dari orang lain.

Akhir Kata: Uruslah Sajadahmu Sendiri

Ramadan 1447 H ini, mari kita turunkan jabatan kita sebagai polisi moral. Berhentilah menjadi hakim atas dosa-dosa orang lain, sementara kita sendiri masih “buron” dari dosa-dosa pribadi yang tak terlihat.

Ingatlah, pintu surga itu luas dan syarat masuknya bukan dengan cara menjatuhkan orang lain ke dalam neraka lewat komentar pedasmu. Jika melihat seseorang tidak berpuasa, doakan mereka dalam diam jika Anda merasa mereka salah, atau berikan uzur (prasangka baik) bahwa mungkin mereka punya alasan syar’i yang tidak perlu mereka umumkan kepada dunia.

Puasalah dari merasa paling benar. Karena kesalehan yang dipamerkan dengan cara merendahkan orang lain, tak lebih dari sekadar kosmetik ruhani yang palsu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini