Beranda Opini Privilese si Puasa: Mengapa Iman Kita Harus “Disuapi” dengan Menutup Warung?

Privilese si Puasa: Mengapa Iman Kita Harus “Disuapi” dengan Menutup Warung?

11

KUBUS.ID – Memasuki hari ke-19 Ramadan 1447 H, sebuah polemik klasik kembali muncul ke permukaan: razia warung makan dan tuntutan agar semua tirai ditutup rapat, kalau bisa, digembok sekalian. Alasan yang selalu digemakan adalah satu kalimat sakti: “Hormatilah orang yang sedang berpuasa.”

Namun, sebagai umat yang katanya ingin naik kelas secara spiritual, mari kita ajukan pertanyaan yang sedikit nakal: Siapa yang sebenarnya butuh dihormati? Kita yang sedang menjalankan perintah Tuhan, atau mereka yang sedang mencari nafkah atau memiliki alasan sah untuk tidak berpuasa?

Iman yang “Manja”

Puasa adalah ibadah yang bersifat personal dan rahasia. Esensinya adalah menahan diri di tengah godaan yang ada. Jika semua godaan dihilangkan—semua warung tutup, aroma makanan dilarang beredar, iklan makanan disensor—lantas di mana letak ujiannya?

Meminta seluruh dunia berhenti berputar hanya agar kita tidak merasa lapar adalah bentuk Privilese si Puasa yang kekanak-kanakan. Jika iman kita begitu rapuh sehingga runtuh hanya karena melihat sepiring nasi rames dari balik tirai warung, maka mungkin yang perlu diperbaiki bukan tirainya, melainkan kualitas iman di dalam dada kita. Kita seolah menuntut dunia menjadi “ruang steril” agar kita bisa beribadah dengan nyaman. Padahal, pahala itu berbanding lurus dengan kesulitan.

Etika vs Ekonomi: Siapa yang Lebih “Syar’i”?

Di balik tirai warung yang kita tuntut tutup itu, ada pemilik warung kecil yang cicilannya tidak ikut libur selama Ramadan. Ada pelayan warung yang berharap bonus lebaran untuk anaknya. Ada buruh bangunan, sopir angkot non-muslim, ibu hamil, hingga orang sakit yang butuh makan di siang hari.

Apakah “menghormati orang puasa” harus dilakukan dengan cara “memutus rezeki orang kecil”? Islam adalah agama yang sangat memperhatikan urusan perut orang lain. Memaksa warung tutup total tanpa solusi ekonomi adalah tindakan yang egois. Kita ingin masuk surga dengan cara berpuasa, tapi kita tidak peduli jika orang lain kesulitan membayar sewa karena dagangannya kita larang.

Kritik Pedas: Sangat aneh jika kita merasa lebih beriman saat berhasil memaksa warung makan tutup, sementara kita membiarkan warung-warung kemiskinan dan ketidakadilan tetap buka di sekitar kita.

Hormat Itu Diberikan, Bukan Diminta

Hormat adalah sesuatu yang tumbuh secara organik karena kewibawaan dan kesantunan, bukan sesuatu yang dirampas lewat Perda atau razia Satpol PP. Orang akan dengan sendirinya menghormati mereka yang berpuasa jika mereka yang berpuasa menunjukkan akhlak yang mulia, bukan mentalitas “bos” yang minta dilayani.

Puasa yang berwibawa adalah puasa yang tetap tersenyum di depan orang yang makan. Puasa yang tangguh adalah puasa yang tetap fokus bekerja meski aroma sate lewat di depan hidung. Ketika kita memaksa orang lain menghormati kita, saat itulah kita sebenarnya sedang kehilangan kehormatan itu sendiri.

Akhir Kata: Puasalah dengan Dewasa

Ramadan 1447 H ini, mari kita ubah cara pandang kita. Biarkan warung tetap buka untuk mereka yang membutuhkan. Biarkan dunia berjalan sebagaimana mestinya. Justru di tengah hiruk-pikuk orang yang tidak berpuasa itulah, nilai puasa kita teruji.

Jangan jadi hamba yang “manja” yang minta disuapi oleh keadaan. Buktikan bahwa puasamu lebih kuat dari sekadar godaan aroma masakan. Karena pada akhirnya, puasa adalah tentang mengalahkan diri sendiri, bukan tentang mengontrol orang lain.

Ingat, Tuhan memerintahkanmu berpuasa untuk melatih kesabaranmu, bukan untuk melatih kemampuanmu menindas hak orang lain.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini